TREN.BISNISMARKET.COM - PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) dilaporkan mulai menunjukkan sinyal pemulihan kinerja keuangan pada kuartal pertama tahun 2026. Perseroan berhasil mencatatkan penurunan signifikan dalam rugi bersih secara tahunan (year-on-year/yoy), meskipun kondisi keuangan secara keseluruhan belum sepenuhnya stabil.
Menurut data yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berhasil ditekan hingga 69,8%. Angka rugi tersebut tercatat sebesar Rp7,58 miliar pada kuartal I-2026, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp25,1 miliar.
Perbaikan performa ini ditopang oleh peningkatan signifikan pada sisi pendapatan. Penjualan bersih perusahaan melonjak sebesar 45,1%, mencapai Rp53,33 miliar pada kuartal I-2026, meningkat dari Rp36,76 miliar pada kuartal I-2025.
Meskipun terjadi peningkatan penjualan, beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan menjadi Rp48,58 miliar dari sebelumnya Rp42,37 miliar. Namun, pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi berhasil membalikkan kondisi laba kotor Indofarma menjadi positif.
Indofarma kini berhasil membukukan laba kotor sebesar Rp4,75 miliar, sebuah kemajuan jika dibandingkan dengan kuartal I-2025 di mana perseroan masih mencatatkan rugi bruto sebesar Rp5,60 miliar. Hal ini menunjukkan adanya efektivitas dalam pengelolaan biaya produksi.
Efisiensi juga terlihat pada pos beban operasional perusahaan. Beban penjualan tercatat anjlok drastis menjadi hanya Rp353,1 juta, menurun dari Rp3,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, beban umum dan administrasi juga berhasil ditekan sebesar 48,4%, turun menjadi Rp6,55 miliar dari sebelumnya Rp12,71 miliar. Berbagai upaya efisiensi ini turut berkontribusi pada penurunan rugi usaha yang tajam.
Rugi usaha perseroan tereduksi signifikan menjadi hanya Rp3,18 miliar, berbanding terbalik dengan rugi usaha pada kuartal I tahun sebelumnya yang mencapai Rp25,44 miliar. Dilansir dari CNBC Indonesia, "Perseroan berhasil memangkas rugi bersih hingga 69,8% secara tahunan (year-on-year/yoy), meski kondisi keuangannya masih belum sepenuhnya pulih."
Meskipun demikian, beban keuangan mulai muncul pada kuartal I-2026 sebesar Rp4,42 miliar, yang turut menekan kinerja. Akibatnya, rugi sebelum pajak tetap tercatat Rp7,60 miliar, namun angkanya jauh lebih rendah dari Rp25,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.