TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan subsektor pariwisata kesehatan, seiring dengan meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan _wellness_ secara global. Peluang ini terbuka lebar di tengah tren global yang terus berkembang.

Namun, pengembangan sektor ini di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Isu mengenai standar layanan, kualitas sumber daya manusia, hingga persaingan ketat dengan negara-negara tetangga yang sudah lebih dulu mapan menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi.

Pemerintah Indonesia kini tengah mempercepat pengembangan pariwisata kesehatan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Fokus utamanya adalah membangun layanan kesehatan bertaraf internasional sekaligus memperkuat industri _wellness_ berbasis kekayaan hayati dan budaya lokal.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri, menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata kesehatan mencakup berbagai subsektor. Ini meliputi _sports tourism_, _wellness tourism_, wisata medis (_medical tourism_), hingga produk-produk kesehatan tradisional yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Kerja sama telah dijalin Kemenpar dengan sejumlah kementerian dan lembaga, salah satunya dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang difokuskan untuk mempercepat sertifikasi berbagai produk _wellness_ yang dihasilkan desa wisata," ujar Widiyanti Putri.

"Banyak desa wisata telah menghasilkan produk seperti jamu, minyak pijat, hingga berbagai produk herbal yang berpotensi menjadi bagian dari pengalaman wisata, namun produk tersebut membutuhkan sertifikasi agar memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar," tambah Widiyanti Putri.

Widiyanti Putri menilai pengembangan _wellness tourism_ di Indonesia saat ini berada pada momentum yang tepat. Ia mengutip bahwa nilai ekonomi _wellness_ global telah mencapai sekitar US$6,8 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi US$9,75 triliun pada tahun 2029.

"Pergeseran perilaku wisatawan, terutama generasi muda yang mencari pengalaman berwisata lebih dekat dengan alam dan jauh dari perangkat digital, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tren ini," tutur Widiyanti Putri.

Dari sisi industri kesehatan, BPOM melihat peluang ekonomi yang lebih besar jika layanan medis, farmasi, kosmetik, hingga _wellness_ dapat dikembangkan secara terintegrasi. Hal ini sejalan dengan pergeseran tren pariwisata.