TREN.BISNISMARKET.COM - Sektor industri obat derivat plasma darah di Indonesia menunjukkan prospek pengembangan yang sangat menjanjikan dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Proyeksi ini membuka peluang besar bagi penyerapan investasi yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (AB3O), FX Sudirman, yang menekankan pentingnya fasilitas fraksionasi plasma sebagai industri biofarmasi yang membutuhkan modal dan teknologi tinggi.

"Investasinya dapat mencapai ratusan juta USD, bergantung pada kapasitas, cakupan produk, tingkat integrasi proses, teknologi yang digunakan, fasilitas pengujian, serta kesiapan infrastruktur plasma nasional," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/7/2026).

Pembangunan pabrik hanyalah sebagian dari kebutuhan investasi industri plasma. Indonesia juga perlu memperkuat infrastruktur pendukung yang komprehensif, mulai dari unit pengolahan darah hingga pengembangan sumber daya manusia.

Sudirman menilai investasi ini akan layak secara bisnis jika memenuhi beberapa syarat krusial. "Pasokan plasma harus terjamin dalam jangka panjang, utilisasi fasilitas harus cukup tinggi, portofolio produk tidak hanya bergantung pada albumin, dan terdapat kepastian akses terhadap pasar domestik," tuturnya.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, kebutuhan pelayanan rumah sakit yang terus meningkat, serta permintaan terhadap albumin, imunoglobulin, dan faktor pembekuan darah yang terus bertambah, pasar domestik dinilai masih terbuka lebar. Produk-produk derivat plasma merupakan obat esensial yang sangat vital untuk penanganan berbagai kondisi medis.

Selama ini, sebagian besar kebutuhan produk derivat plasma masih dipenuhi melalui impor, yang mencerminkan adanya permintaan domestik yang besar sekaligus peluang investasi yang belum tergarap. "Karena itu, sektor ini menarik bagi investor, tetapi bukan investasi yang bersifat cepat atau spekulatif," jelas Sudirman.

Meskipun prospeknya menjanjikan, Sudirman mengingatkan bahwa industri plasma adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan kepastian pasokan bahan baku, kepastian pembelian, dukungan regulasi, teknologi yang teruji, dan disiplin mutu yang sangat tinggi.

"Investor akan tertarik apabila pemerintah mampu membangun ekosistem yang terintegrasi dari donor, unit pengolahan darah, logistik rantai dingin, fraksionasi, registrasi produk, hingga pengadaan oleh rumah sakit dan program pemerintah," katanya.