TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi akan secara signifikan meningkatkan volume lalu lintas internet. Analis memperkirakan trafik ini dapat melonjak hingga lima kali lipat pada tahun 2031.
Kenaikan trafik yang masif ini menuntut adanya peningkatan kapasitas dan kecepatan infrastruktur internet di Indonesia. Tujuannya adalah agar jaringan telekomunikasi nasional mampu menopang beban transformasi digital yang semakin intensif.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jakarta, Hendry, memberikan pandangannya. Beliau menyatakan bahwa infrastruktur internet Indonesia saat ini sedang dalam proses penguatan.
Namun, menurut Hendry, penguatan tersebut belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini menjadi tantangan dalam menampung besarnya beban transformasi digital yang dipicu oleh adopsi AI.
"Di tengah perkembangan adopsi teknologi digital di era AI, infrastruktur internet RI sudah menuju tahap penguatan namun belum merata di seluruh Indonesia untuk menampung beban transformasi digital," ujar Hendry.
APJII mencatat bahwa penetrasi internet di Indonesia terus mengalami peningkatan yang positif. Angka yang tercatat menunjukkan penetrasi telah mencapai 81,7%.
Meskipun angka penetrasi terus naik, masih terdapat kesenjangan yang signifikan. Kesenjangan ini terlihat jelas antara konektivitas internet di perkotaan dan daerah pedesaan atau terpencil.
Mahalnya biaya pembangunan infrastruktur di negara kepulauan seperti Indonesia menjadi salah satu faktor utama penyebab kesenjangan tersebut. Kondisi geografis yang unik ini menambah kompleksitas dalam pemerataan akses internet.
Untuk memahami lebih dalam mengenai kekuatan infrastruktur internet Indonesia dalam menghadapi era AI, sebuah dialog mendalam telah dilaksanakan.