TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat infrastruktur pusat data di seluruh dunia kini dihadapkan pada tantangan serius yang ditimbulkan oleh perubahan iklim ekstrem. Banyak lokasi strategis yang menjadi tempat berdirinya pusat data kini meningkatkan risiko akibat bencana alam yang semakin sering terjadi.
Sebuah analisis mendalam yang dilakukan oleh First Street baru-baru ini menyoroti kerentanan ini di 97 pasar pusat data global utama. Temuan studi tersebut menunjukkan bahwa mayoritas kapasitas, tepatnya 79%, berlokasi di zona yang memiliki peningkatan risiko bencana.
Risiko-risiko spesifik yang dihadapi mencakup potensi banjir besar, intensitas angin kencang yang ekstrem, hingga ancaman kebakaran hutan yang meluas. Kondisi ini secara langsung mengancam kelancaran operasional fasilitas penting tersebut.
Dampak utama dari ancaman iklim ini adalah potensi peningkatan waktu henti operasional atau downtime, yang kemudian akan berujung pada lonjakan biaya yang harus ditanggung untuk perbaikan dan premi asuransi.
Matthew Eby, CEO First Street, mengungkapkan bahwa metode penilaian risiko tradisional yang selama ini digunakan sudah tidak memadai lagi menghadapi realitas saat ini. "Sebagian besar penjaminan aset riil masih menggunakan data historis, namun sekarang iklim tidak lagi berperilaku seperti yang diprediksi oleh catatan historis," kata Matthew Eby, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (21/6/2026).
Selain risiko bencana mendadak, lebih dari separuh pusat data global juga berada pada pasar yang terpapar tekanan iklim kronis, seperti kekeringan berkepanjangan dan suhu ekstrem. Tantangan jangka panjang ini akan menggerus efisiensi energi dan menaikkan biaya operasional secara signifikan.
Jeremy Porter, Kepala Ekonom First Street, mengkritik pendekatan pemerintah yang dinilainya masih tertinggal dalam menyikapi perkembangan teknologi dan ancaman iklim. Pemerintah cenderung masih mengandalkan perhitungan curah hujan berdasarkan data masa lalu tanpa mengintegrasikan proyeksi dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.
Kondisi pemanasan global menyebabkan atmosfer menahan lebih banyak uap air, yang berimplikasi pada pola curah hujan yang lebih deras dan tidak terduga ketika terjadi. Hal ini menjadi kerugian bagi investor yang hanya berpegangan pada metrik konvensional.
Investor diperingatkan bahwa pusat data dirancang untuk beroperasi dalam jangka waktu 20 hingga 30 tahun, sehingga perubahan iklim harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan operasional jangka panjang mereka.