TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada Selasa, 26 Mei 2026, diwarnai oleh aksi jual bersih yang cukup signifikan dari investor asing. Aktivitas ini mengakibatkan tekanan jual yang masif terhadap saham bank BUMN tersebut sepanjang hari.

Secara spesifik, tekanan jual bersih asing mencapai nominal fantastis yaitu sebesar Rp 264,43 miliar pada hari tersebut. Dampak langsung dari aksi jual ini adalah penutupan harga saham BBRI yang mengalami koreksi cukup dalam sebesar 3,15 persen.

Akibat aksi jual asing tersebut, harga saham BBRI ditutup pada level Rp 3.070 per lembar pada penutupan perdagangan hari Selasa. Penurunan ini kontras dengan pergerakan sehari sebelumnya, yaitu pada 25 Mei, di mana saham BBRI sempat mencatatkan kenaikan signifikan hingga 3,93 persen.

Pergerakan saham BBRI dalam kurun waktu satu bulan terakhir cenderung menunjukkan kondisi yang stagnan, meskipun dibayangi oleh tren penjualan bersih investor asing. Tercatat, total net sell asing yang terakumulasi selama periode tersebut telah mencapai Rp 1,14 triliun.

Meskipun terjadi tekanan dari aksi jual investor asing, kinerja fundamental Bank Rakyat Indonesia justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini terlihat dari laporan keuangan perseroan yang tetap membukukan hasil positif di tengah kondisi pasar.

Berdasarkan ulasan dari Stockbit Sekuritas, Bank Rakyat Indonesia berhasil membukukan laba bersih untuk segmen bank only sebesar Rp 4 triliun hanya dalam bulan April 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan (YoY) sebesar 3 persen.

Kumulatif laba bersih bank only BBRI selama empat bulan pertama tahun 2026 kini telah menyentuh angka Rp 15,9 triliun. Pencapaian ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 6 persen secara tahunan dan setara dengan 27 persen dari estimasi konsolidasi tahunan yang ditetapkan oleh konsensus analis.

Pertumbuhan laba BBRI hingga April 2026 ditopang oleh peningkatan signifikan pada Net Interest Income sebesar 7 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh keberhasilan perusahaan dalam menekan beban bunga hingga mencapai 16 persen secara tahunan.

Di sisi lain, penyaluran kredit perusahaan juga menunjukkan ekspansi yang kuat, tumbuh 11 persen secara tahunan, melampaui panduan manajemen yang berada di rentang 7 hingga 9 persen. Peningkatan beban provisi tercatat lebih moderat, hanya naik 2 persen secara tahunan, yang berkontribusi menurunkan biaya kredit (Cost of Credit/CoC) dari 3,5 persen menjadi 3,2 persen.