TREN.BISNISMARKET.COM - Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menunjukkan daya tarik yang kuat di mata investor asing, terbukti dengan aksi beli bersih yang masif pada akhir Juni lalu. Tercatat, net buy investor asing untuk saham ANTM berhasil menembus angka signifikan sebesar Rp306,45 miliar dalam periode 22 hingga akhir Juni.
Aksi penampungan saham yang konsisten selama sepekan tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek pergerakan harga saham ANTM di pasar modal. Momentum positif ini juga terlihat pada perdagangan sesi kedua, Selasa (1/7/2026), di mana harga saham ANTM terpantau berada di level Rp2.610, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,77%.
Kenaikan minat terhadap emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) turut menjadi pendorong utama kinerja emiten pertambangan ini. Ketertarikan yang tinggi terhadap komoditas emas ini tercermin langsung dalam catatan kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk yang berhasil mencapai performa terbaik dalam sejarah perusahaan sepanjang tahun 2025.
Pada tahun 2025, perusahaan berhasil membukukan pendapatan yang impresif sebesar Rp84,64 triliun, menandai peningkatan sebesar 22% dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan ini menggarisbawahi kekuatan fundamental emiten plat merah ini di tengah kondisi pasar.
Lebih lanjut, laba bersih tahun berjalan ANTAM pada tahun 2025 juga menunjukkan lonjakan luar biasa, mencapai Rp7,92 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 106% jika dibandingkan dengan laba bersih yang dicatatkan pada tahun 2024, menegaskan efisiensi operasional perusahaan.
Kontribusi terbesar atas kinerja cemerlang ini datang dari segmen penjualan emas, yang sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai Rp66,47 triliun. Jumlah tersebut merupakan peningkatan sebesar 15% dari realisasi penjualan emas pada tahun 2024 yang berada di angka Rp57,56 triliun.
Menanggapi kondisi ini, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, memberikan pandangan optimis mengenai prospek perusahaan ke depan. "Kami menilai prospek ANTM ke depan masih akan cerah didukung oleh target manajemen untuk mendorong penjualan emas untuk menyamai atau melampaui rekor tahun 2024," ungkap Adrian Djie kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (2/7/2026).
Meskipun fundamentalnya kuat, terdapat tantangan yang patut diperhatikan, khususnya terkait potensi penurunan harga emas global. Penurunan ini merupakan refleksi dari kekhawatiran pasar mengenai prospek kenaikan suku bunga acuan yang diperkirakan terjadi menjelang akhir tahun.
Namun, Adrian Djie menekankan bahwa meski segmen emas memberikan kontribusi pendapatan terbesar dan menghadapi tantangan harga, saham ANTM tetap menarik untuk dikoleksi oleh investor. "Segmen emas merupakan kontribusi pendapatan terbesar ANTM. Namun menurut kami, partisipasi retail tidak sepenuhnya meningkatkan kinerja ANTM secara signifikan meskipun tentunya akan memberikan dorongan," kata Adrian Djie.