TREN.BISNISMARKET.COM - Changxin Technology Group (CXMT) tengah menjadi pusat perhatian global berkat lonjakan permintaan chip yang krusial untuk teknologi kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini tidak hanya memicu kelangkaan chip dunia, tetapi juga menempatkan produsen semikonduktor sebagai pemain utama di pasar modal.

Sebelumnya, CXMT bukanlah nama yang dikenal luas di kalangan publik, berbeda dengan raksasa teknologi China seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance. Namun, kini perusahaan produsen chip terbesar di China tersebut mendadak menjadi sorotan utama.

Situasi kelangkaan chip global yang meluas ternyata menjadi momentum bagi CXMT untuk bergerak cepat menambah kapasitas produksinya. Langkah strategis ini terbukti membuahkan hasil signifikan.

Saham CXMT mengalami kenaikan impresif lebih dari 500% pada awal pekan ini, menyusul debut perdana (IPO) di bursa saham Shanghai 'Star Market'. Lonjakan ini secara resmi mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan China paling bernilai yang terdaftar di bursa.

Perusahaan yang berpusat di Hefei ini berhasil menggalang dana sebesar 57,92 miliar yuan (sekitar Rp154 triliun) setelah menetapkan harga IPO di angka 8,66 yuan per saham. Pencapaian ini menjadikannya sebagai IPO terbesar di Asia sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data penjualan kuartal keempat tahun 2025, CXMT menguasai pangsa pasar chip DRAM global sebesar 7,67%. Chip DRAM sendiri merupakan komponen vital dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari ponsel pintar hingga server.

Pasar chip DRAM global saat ini masih didominasi oleh pemain besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology. Kehadiran CXMT sebagai pesaing baru patut diperhitungkan.

"Saya tidak meragukan lagi bahwa perusahaan ini akan tumbuh menjadi pemimpin global. Ini mungkin hanya masalah waktu sampai mereka tidak hanya menjadi penantang, tetapi bisa menjadi juara global di sektor khusus ini," ujar Theodore Shou, CEO Yiyi Capital, dalam acara "Squawk Box Asia" CNBC International.

Pencatatan saham CXMT ini semakin ramai diperbincangkan setelah muncul laporan bahwa Apple mulai menguji coba memori DRAM buatan produsen asal China tersebut untuk perangkat yang dijual di pasar domestik China.