TREN.BISNISMARKET.COM - Kemacetan parah kembali melanda jalur penyeberangan vital Ketapang menuju Gilimanuk selama periode libur sekolah pertengahan tahun ini. Kejadian berulang ini menunjukkan bahwa akar permasalahan di jalur penghubung Jawa-Bali tersebut belum menemukan solusi permanen.

Kekacauan serupa pernah terjadi saat momen arus mudik Lebaran beberapa waktu lalu, menggarisbawahi tantangan manajemen lalu lintas yang terus menghantui lintasan tersebut. Pemerintah saat ini masih dalam tahap persiapan untuk rencana jangka panjang menambah kapasitas dan memisahkan alur kendaraan logistik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan lonjakan signifikan dalam pergerakan penumpang di lintasan penyeberangan setiap kali musim liburan tiba. Sebagai ilustrasi, pada Desember 2025, jumlah penumpang angkutan penyeberangan mencapai 4,7 juta orang, naik 20,46% dari bulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut terlihat jelas di kedua ujung pelabuhan, dengan Pelabuhan Ketapang mencatat kenaikan 18,22% dan Pelabuhan Gilimanuk naik 17,84%. Fenomena serupa memuncak pada arus mudik Lebaran 2026, di mana jumlah penumpang melonjak hampir dua kali lipat menjadi 7,1 juta orang.

Saat libur sekolah saat ini, kepadatan kembali terjadi, dengan antrean kendaraan sempat memanjang hingga sekitar lima kilometer sebelum akhirnya berangsur menurun. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa kepadatan kali ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor.

Salah satu pemicu utama adalah kerusakan yang terjadi pada Dermaga Bulusan, yang selama ini melayani penyeberangan kendaraan logistik. Akibatnya, sebagian arus kendaraan besar terpaksa dialihkan ke Pelabuhan Ketapang yang dikelola oleh PT ASDP, sehingga membebani kapasitas pelabuhan tersebut.

"Kami sudah meminta ASDP segera berkoordinasi dengan Pemda Jawa Timur agar perbaikan Dermaga Bulusan segera dilakukan sehingga bisa digunakan kembali," ujar Menhub Dudy Purwagandhi dalam sesi Media Briefing pada hari Jumat, 26 Juni 2026.

Selain masalah dermaga, kapasitas pelayanan ikut berkurang karena terdapat dua kapal Long Distance Ferry (LDF) milik PT ALP yang mengalami gangguan operasional di tengah lonjakan volume kendaraan selama libur sekolah.

Untuk mengatasi kepadatan yang terus berulang, pemerintah sedang menyiapkan pola operasional baru yang memisahkan secara tegas antara pelayanan kendaraan logistik dan kendaraan pribadi. Rencananya, kendaraan logistik akan diarahkan melalui Pelabuhan Celukan Bawang di Bali.