TREN.BISNISMARKET.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah upaya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencapai gencatan senjata dilaporkan gagal. Imbas dari kegagalan ini, Iran kini melontarkan ancaman serius terhadap aset-aset komersial milik AS yang beroperasi di kawasan tersebut.
Ancaman terbaru ini secara spesifik menargetkan kerajaan bisnis miliarder teknologi Elon Musk yang memiliki kepentingan ekonomi di Asia Barat. Media pemerintah Iran, Fars, pada hari Kamis (11/6) waktu setempat, mengindikasikan bahwa layanan internet satelit Starlink, yang dioperasikan oleh SpaceX, menjadi salah satu target utama.
Pernyataan yang diterjemahkan dari kanal Telegram Fars pada Jumat (12/6/2026) menyebutkan bahwa Iran berencana untuk menyasar semua kepentingan yang berkaitan dengan kepemilikan ekonomi yang dikelola oleh Elon Musk di Asia Barat. Hal ini termasuk penargetan terhadap stasiun bumi regional milik Starlink.
Starlink memiliki peran krusial dalam mendukung operasi militer AS di wilayah tersebut, mengingat layanannya sangat penting bagi persenjataan berteknologi tinggi Amerika. Layanan internet satelit ini dilaporkan mendukung berbagai sistem canggih, mulai dari drone hingga kapal pengintai dan sistem serang tanpa awak.
Dilansir dari CNBC International, Iran mengklaim bahwa dukungan perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Musk telah berkontribusi pada apa yang mereka sebut sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh AS. Sumber yang disebut "terinformasi" oleh Fars mendukung klaim ini.
Menurut sumber tersebut, "Republik Islam Iran berhak menyerang semua fasilitas yang terkait dengan kepemilikan [Musk] di wilayah tersebut dan wilayah pendudukan," kata sumber itu.
Ancaman ini muncul di tengah situasi eskalasi yang lebih luas, di mana Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan terhadap perusahaan teknologi besar AS lainnya. Beberapa nama yang sempat disebut termasuk raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, Microsoft, dan Google.
Kondisi ini bertepatan dengan peringatan keras yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump melalui akun media sosialnya pada hari yang sama. Trump menyatakan, "AS akan menyerang Iran dengan dahsyat malam ini," pada Kamis (11/6) kemarin.
Dalam unggahan media sosial yang sama, Presiden Trump juga mengumumkan niat AS untuk mengambil alih Kharg Island, yang merupakan pusat vital bagi ekspor minyak Iran, bersamaan dengan infrastruktur minyak kunci lainnya. SpaceX dan Gedung Putih belum memberikan respons resmi saat dimintai komentar mengenai perkembangan dari Fars oleh CNBC International.