TREN.BISNISMARKET.COM - Industri ponsel global dilaporkan mengalami kemerosotan signifikan pada kuartal kedua (Q2) tahun 2026. Penurunan ini diperkirakan mencapai 11% secara tahunan, menandai periode pertumbuhan paling lesu sejak tahun 2013.

Kondisi pasar yang sulit ini utamanya disebabkan oleh krisis chip memori global yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2025. Krisis ini memicu lonjakan harga komponen yang drastis bagi para produsen ponsel.

Lonjakan permintaan chip memori dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Kebutuhan besar untuk infrastruktur data center AI mengalihkan pasokan chip konvensional, yang berdampak langsung pada produksi perangkat elektronik konsumen, termasuk ponsel pintar.

Dampak kenaikan harga komponen, yang dikenal sebagai Bill of Materials (BOM), terasa paling parah pada ponsel segmen murah (entry-level) dan menengah (mid-range). Segmen ini mencakup volume pasar ponsel terbesar di dunia.

Para produsen ponsel merespons tantangan ini dengan berbagai strategi. Ada yang memilih menaikkan harga jual, meskipun harus menerima konsekuensi penurunan margin keuntungan mereka.

Sebagian produsen juga memperpanjang siklus hidup model generasi lama dan mengandalkan promosi untuk menarik konsumen yang sensitif terhadap harga. Langkah ini diambil untuk menjaga daya saing di tengah situasi yang kian menantang.

"Selain kelangkaan chip memori, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendongkrak biaya minyak dan pengiriman, yang makin menaikkan harga ponsel," jelas Shilpi Jain, Senior Analyst di Counterpoint.

"Kondisi ini terjadi bersamaan dengan tekanan makroekonomi yang lebih luas, perlambatan pertumbuhan global, inflasi yang lebih tinggi, serta sentimen konsumen yang berada di titik terendah dalam sejarah, yang dampaknya paling berat dirasakan oleh pembeli yang sangat mempertimbangkan harga," tambah Shilpi Jain.

Meski demikian, Samsung berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar ponsel global. Pangsa pasar Samsung meningkat dari 20% menjadi 24% pada Q2 2026.