TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Kekhawatiran mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) kini merambah sektor ekonomi global. Lebih dari 200 peneliti dan ekonom terkemuka, termasuk 15 peraih Nobel, telah secara kolektif menyerukan tindakan segera dari pemerintah di seluruh dunia.

Para ahli ini menyoroti bahwa AI berpotensi memicu transformasi ekonomi yang jauh lebih masif dibandingkan Revolusi Industri. Perbedaannya terletak pada kecepatan adaptasi yang dibutuhkan masyarakat.

"Uap, listrik, dan komputer memberikan waktu puluhan tahun untuk masyarakat bisa beradaptasi. AI mungkin memberikan kita beberapa tahun," ujar Profesor dari Universitas Virginia, Anton Korinek.

Pernyataan bersama ini secara tegas meminta adanya penelitian yang lebih mendalam mengenai berbagai dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh perkembangan AI.

Para pakar juga mendorong pemerintah untuk proaktif dalam membangun kebijakan dan institusi yang relevan. Langkah ini penting untuk memastikan manfaat AI dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, institusi yang ada perlu dipersiapkan untuk mengatasi potensi risiko kehilangan pekerjaan dalam skala besar yang mungkin timbul akibat otomatisasi.

"Kita tidak bisa mengimprovisasi strategi dan institusi di tengah transformasi, menunggu kepastian artinya kita terlalu terlambat," imbuh Anton Korinek, menekankan urgensi persiapan.

Inisiatif penting ini diprakarsai oleh Anton Korinek bersama dengan tim riset ekonomi dari Anthropic. Kolaborasi ini juga melibatkan ekonom ternama lainnya seperti Erik Brynjolfsson, Ajay Agrawal, dan Tom Cunningham.

Beberapa tokoh kunci dari industri teknologi juga turut menandatangani seruan ini, termasuk kepala keuangan OpenAI, Sarah Friar, dan Kepala Ilmuwan Google DeepMind, Jeff Dean. Salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, juga menjadi bagian dari inisiatif ini.