TREN.BISNISMARKET.COM - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, baru-baru ini memberikan pandangan mengenai tantangan likuiditas yang dihadapi pasar modal Indonesia seiring penurunan nilai transaksi harian. Menurutnya, solusi untuk persoalan ini tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan investor ritel semata.
Permasalahan likuiditas ini menjadi sorotan utama setelah terjadi penurunan signifikan pada rata-rata nilai transaksi harian di bursa. Sebagai informasi, rata-rata nilai transaksi harian pada pekan lalu tercatat turun 29,13% secara mingguan dan mencapai Rp 17,58 triliun.
Penurunan ini terlihat konsisten sejak awal bulan, di mana jika dibandingkan dengan pekan terakhir bulan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian telah merosot hingga 38,06%. Bahkan pada perdagangan hari terakhir yang disebutkan, nilai transaksi anjlok ke Rp 8,69 triliun, jauh di bawah rata-rata harian yang tercatat.
Jeffrey Hendrik menekankan bahwa beban penyerapan transaksi tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada investor ritel saja dalam upaya memperkuat pasar. Hal ini disampaikannya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (30/6/2026).
"Penyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita," ujar Jeffrey Hendrik.
Dari sisi penawaran (supply), Jeffrey memaparkan bahwa pasar modal Indonesia sangat membutuhkan penambahan jumlah perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO). Kehadiran emiten besar dianggap penting untuk meningkatkan daya tarik pasar.
"Salah satu suplai yang berkualitas tentu adalah perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi besar dalam jumlah yang banyak," sebutnya.
Sementara itu, dari sisi permintaan (demand), Jeffrey mengakui bahwa jumlah investor ritel di Indonesia memang telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan ini.
"Dari sisi demand, itu adalah jumlah investor retail kita yang sekarang sudah luar biasa besar," tambahnya.