TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena peralihan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mulai terlihat di masyarakat menyusul adanya penyesuaian harga pada BBM jenis non-subsidi. Pertamax, yang sebelumnya menjadi pilihan banyak pengguna, kini mengalami penurunan minat seiring dengan kenaikan harganya yang cukup signifikan.
Hal ini secara langsung mendorong lonjakan permintaan terhadap BBM bersubsidi, khususnya Pertalite. Pergeseran konsumsi ini menjadi sorotan utama dalam dinamika pasar BBM di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga Pertamax dari kisaran Rp 12.000-an per liter menjadi sekitar Rp 16.250 per liter, bahkan mencapai Rp 17.000-an di beberapa daerah, menjadi pemicu utama para pengguna untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau. Pertalite dengan harga yang lebih ramah di kantong pun menjadi pilihan favorit.
"Saat ini terjadi peningkatan (konsumsi Pertalite) hampir 9,4 persen hanya di bulan Juli saja," ujar Eko Ricky Susanto, Director of Regional Marketing at PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII.
Perubahan komposisi konsumsi BBM ini terlihat jelas jika membandingkan data sebelum dan sesudah penyesuaian harga. Sebelumnya, konsumsi Pertamax berada di angka 23,2 persen, sementara Pertalite mendominasi dengan 75,4 persen.
Namun, pasca kenaikan harga, pangsa pasar Pertamax dilaporkan anjlok. Sebaliknya, Pertalite justru semakin mengukuhkan posisinya di pasar dengan peningkatan konsumsi menjadi 80,3 persen.
"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," jelas Eko Ricky Susanto.
Tren peningkatan konsumsi juga merambah pada BBM bersubsidi jenis Biosolar. Konsumsi Biosolar tercatat mengalami kenaikan dari 93 persen menjadi 94,2 persen, menunjukkan adanya pergeseran permintaan yang signifikan.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya berdampak pada kendaraan pribadi, tetapi juga merambah ke sektor industri. Banyak kendaraan industri dilaporkan mulai beralih menggunakan BBM bersubsidi seperti Biosolar.