TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah temuan ilmiah menarik menunjukkan bahwa manusia bukanlah satu-satunya primata yang mampu mengeluarkan suara menyerupai tawa saat menerima stimulasi fisik menyenangkan, seperti geli. Gorila dan kera besar lainnya juga menghasilkan vokalisasi khas yang terdengar seperti cekikikan saat mereka sedang digelitik atau terlibat dalam sesi bermain.
Penelitian mendalam ini berupaya menelusuri akar sejarah komunikasi suara di antara spesies primata, yang diperkirakan telah berlangsung selama rentang waktu evolusi mencapai lebih dari 15 juta tahun. Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai perkembangan awal dari ekspresi emosi vokal.
Studi ini secara spesifik menganalisis pola ritme tawa yang dihasilkan oleh berbagai spesies kera besar yang masih hidup saat ini, termasuk manusia, sebagai subjek perbandingan. Hasil analisis tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, yaitu Communications Biology yang merupakan bagian dari penerbitan Nature.
Selain gorila, penelitian komprehensif ini juga melibatkan data vokalisasi dari orang utan, simpanse, dan bonobo untuk mendapatkan gambaran evolusioner yang lebih utuh. Para ilmuwan berupaya memetakan kesamaan dan perbedaan dalam produksi suara kegembiraan antarspesies ini.
Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi bahwa suara yang dikeluarkan oleh gorila ketika digelitik bukanlah sekadar respons refleks atau kebetulan semata. Ada pola yang terstruktur dan terulang dalam vokalisasi tersebut yang mengindikasikan adanya fungsi komunikasi.
Tim peneliti yang bertanggung jawab atas studi ini dipimpin oleh seorang ilmuwan bernama Chiara De Gregorio. Mereka secara metodis merekam dan menganalisis sebanyak 140 rangkaian rekaman tawa yang berasal dari 17 individu primata berbeda.
"Perbandingan dilakukan antara tawa yang muncul saat digelitik dan saat bermain bebas," ujar Chiara De Gregorio, merujuk pada metodologi perbandingan stimulus yang mereka lakukan dalam penelitian tersebut.
Penelitian ini menekankan bahwa tawa pada primata purba bukanlah sekadar luapan emosi sesaat, melainkan merupakan jejak evolusi yang terawat dengan baik selama rentang jutaan tahun. Ini menunjukkan konsistensi pola komunikasi vokal.
Kemampuan untuk mengatur ritme suara yang teramati pada kera besar ini diyakini menjadi fondasi awal yang kemudian berkembang menjadi kontrol vokal yang jauh lebih fleksibel. Kontrol vokal inilah yang pada akhirnya memfasilitasi perkembangan bicara dan bahasa kompleks pada manusia.