TREN.BISNISMARKET.COM - Pada masa awal pembentukan, Bumi berputar jauh lebih cepat, menyelesaikan satu rotasi penuh hanya dalam waktu sekitar enam jam empat miliar tahun yang lalu. Saat ini, durasi satu hari di planet kita telah stabil menjadi rata-rata 24 jam, meskipun perubahan kecil terus terjadi.

Perbedaan durasi siang dan malam ini ternyata memiliki korelasi signifikan terhadap aktivitas mikroba penghasil oksigen di lingkungan perairan purba. Ketika panjang hari bertambah, mikroba tersebut diketahui melepaskan volume oksigen yang lebih besar ke atmosfer.

Penemuan ini didukung oleh studi yang dilakukan pada sampel sedimen dari dasar Danau Huron, yang terletak di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada. Area penelitian tersebut memiliki kedalaman 24 meter di bawah permukaan dan dicirikan oleh kondisi oksigen yang minim serta kandungan sulfur yang tinggi.

Di lingkungan tersebut hidup dua jenis mikroba utama, yaitu Purple Cyanobacteria yang melakukan fotosintesis dan White Bacteria yang memanfaatkan sulfur. Purple Cyanobacteria akan aktif menghasilkan oksigen ketika terpapar cahaya matahari selama periode siang hari.

"Terdapat hubungan antara dinamika cahaya dengan pelepasan oksigen, serta hubungan yang berdasarkan pada fisika difusi molekuler saat perubahan termal membuat molekul bermigrasi dari area berkonsentrasi tinggi ke rendah," jelas peneliti dari Max Planck Institute for Marine Microbiology, Judith Klatt, Dikutip dari Live Science, Senin (8/6/2026).

Melalui pemodelan yang dilakukan peneliti terhadap variasi panjang hari dan tingkat oksigen mikroba, ditemukan bahwa hari yang lebih panjang memungkinkan bakteri fotosintetik melepaskan lebih banyak oksigen. Menurut peneliti lain, Arjun Chennu dari Leibniz Centre for Tropical Marine Research, hal ini disebabkan oleh periode penyinaran matahari yang lebih lama.

Namun, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Ross Mitchell dari Akademi Ilmu Pengetahuan China menunjukkan bahwa perlambatan rotasi Bumi tidak terjadi secara konstan. Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 2023 ini menemukan bahwa selama periode tertentu, durasi hari terkunci stabil pada 19 jam.

Tim peneliti menganalisis pola geologis dari lapisan batuan sedimen selama 2,5 miliar tahun menggunakan metode siklostratigrafi. Mereka mengidentifikasi bahwa antara dua miliar hingga satu miliar tahun lalu, terjadi keseimbangan antara gaya pasang surut Bulan dan interaksi antara inti Bumi dengan mantelnya, yang menyebabkan resonansi rotasi.

Periode stabil 19 jam ini sering dijuluki sebagai "Miliar Tahun yang Membosankan" karena laju perubahan lingkungan dan evolusi kehidupan berjalan sangat lambat. Keterbatasan durasi siang hari membuat pasokan oksigen global hanya mencapai sekitar 0,1% dari kadar saat ini, membatasi perkembangan organisme kompleks.