TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah menginisiasi langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan pesawat yang telah mengantar jemaah haji kembali dari Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji secara keseluruhan, dengan cara mengisi kursi pesawat kepulangan dengan turis.

Langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan promosi wisata agar pesawat yang semula hanya mengangkut jemaah haji saat berangkat, kini dapat membawa wisatawan saat kembali ke Tanah Air. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan langsung Presiden dalam evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan membangun ekosistem haji yang lebih produktif dan sekaligus memperkuat sektor pariwisata serta industri penerbangan nasional. Program ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian Indonesia.

"Presiden memberikan arahan agar pesawat yang mengantar jemaah haji tidak kembali dalam kondisi kosong. Karena itu kami berkoordinasi dengan Kemenhub, Kemenpar, dan Garuda Indonesia untuk menyiapkan langkah-langkah konkret sehingga penerbangan tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia," ujar Dahnil pada Kamis (25/6/2026).

Untuk merealisasikan hal ini, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah membentuk task force lintas kementerian yang melibatkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA). Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan ekonomi haji dan pariwisata.

Pemerintah Indonesia telah berhasil mendapatkan izin dari General Authority of Civil Aviation (GACA) Arab Saudi. Izin ini memungkinkan maskapai nasional Indonesia untuk mengangkut penumpang reguler pada rute kepulangan dari Arab Saudi menuju Indonesia.

Dengan adanya izin tersebut, pemerintah mulai menyusun skema pemanfaatan penerbangan yang sebelumnya mengalami empty flight atau penerbangan kosong setelah mengantar jemaah haji. Kapasitas kosong ini akan diisi oleh wisatawan dari Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Destinasi wisata unggulan di Indonesia akan menjadi target utama kedatangan para wisatawan tersebut, yang diharapkan dapat menciptakan arus masuk devisa baru dan meningkatkan tingkat keterisian (load factor) pesawat nasional.

Dahnil Anzar menekankan bahwa pendekatan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memastikan aktivitas haji dan umrah tidak hanya menghasilkan arus keluar devisa, namun juga mampu menciptakan arus masuk devisa yang bermanfaat bagi perekonomian nasional. "Setiap tahun sekitar 3,2 juta warga Indonesia melakukan perjalanan haji dan umrah dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Presiden mendorong agar aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan arus keluar devisa, tetapi juga mampu menciptakan arus masuk devisa yang memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional," katanya.