TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena menghilangnya kunang-kunang dari lingkungan perkotaan kini semakin terasa, bahkan dikeluhkan oleh banyak warganet yang kesulitan menemukan serangga bercahaya tersebut di alam liar.
Kondisi ini ternyata bukan sekadar fenomena biasa, melainkan cerminan langsung dari kualitas lingkungan tempat kita tinggal. Hal ini diungkapkan oleh pakar entomologi dari IPB University.
Dosen dan peneliti dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, menyoroti peran krusial kunang-kunang dalam ekosistem.
"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (25/6/2026).
Penurunan populasi kunang-kunang ini juga merupakan isu global yang serius, sebagaimana tercatat dalam data konservasi internasional.
Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa antara 11 hingga 20 persen dari total spesies kunang-kunang di dunia kini tergolong dalam kondisi terancam punah.
Bahkan, beberapa spesies kunang-kunang yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand juga telah dikategorikan sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan.
Menurut Kesumawati Hadi, penyebab utama menyusutnya populasi serangga ini adalah kerusakan habitat alami mereka.
Alih fungsi lahan hijau, seperti rawa dan persawahan, menjadi kawasan pemukiman atau industri secara langsung menghilangkan tempat hidup esensial bagi kunang-kunang.