TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah analisis mendalam mengenai ekspansi industri pengolahan mineral di Indonesia telah dirilis, menyoroti potensi dampak signifikan terhadap sumber daya alam dan sektor energi nasional. Fokus utama analisis ini adalah lonjakan kapasitas produksi alumina yang diproyeksikan dalam beberapa tahun ke depan.

Pusat Riset Energi dan Iklim (CREA) memberikan proyeksi yang cukup mengkhawatirkan mengenai pertumbuhan sektor ini. Mereka memperkirakan bahwa kapasitas produksi alumina di Indonesia akan mengalami peningkatan yang sangat substansial dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Secara spesifik, proyeksi tersebut menunjukkan bahwa volume produksi alumina diprediksi akan melompat tajam dari angka 9 juta ton pada tahun 2025. Peningkatan ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 mendatang, dengan perkiraan kapasitas mencapai 32,5 juta ton.

Lonjakan kapasitas produksi yang masif ini menimbulkan dua risiko utama yang perlu dicermati oleh para pemangku kepentingan. Risiko pertama berkaitan dengan potensi penipisan cadangan bahan baku utama, yaitu bauksit, yang merupakan sumber utama produksi alumina.

Risiko kedua yang diidentifikasi dalam studi tersebut adalah potensi peningkatan ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mandiri atau captive power plant. Proses peleburan dan pemurnian alumina memerlukan energi listrik dalam jumlah yang sangat besar.

"CREA memperkirakan, kapasitas produksi alumina Indonesia akan melonjak dari 9 juta ton pada 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030," ujar perwakilan dari CREA dalam publikasi analisis tersebut.

Peningkatan kebutuhan energi yang signifikan ini secara otomatis akan mendorong investasi pada pembangkit listrik baru, dan dalam konteks Indonesia saat ini, besar kemungkinan energi yang digunakan adalah batu bara melalui PLTU captive. Hal ini berpotensi menghambat upaya dekarbonisasi sektor industri.

Oleh karena itu, ekspansi smelter aluminium, meskipun penting untuk hilirisasi mineral, harus diimbangi dengan strategi pengelolaan sumber daya bauksit yang berkelanjutan dan diversifikasi sumber energi yang lebih bersih. Pemerintah diharapkan dapat meninjau kembali proyeksi ini demi menjaga keseimbangan ekologis dan energi jangka panjang.

Dikutip dari CREA, proyeksi ini menjadi peringatan dini mengenai kebutuhan mendesak untuk perencanaan sumber daya yang lebih komprehensif dalam mendukung ambisi hilirisasi industri nasional.