TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar Rupiah menunjukkan tren positif saat membuka perdagangan awal pekan ini dengan mencatatkan penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini memberikan angin segar bagi mata uang Garuda setelah melewati periode tekanan pada pekan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan hari Senin, 29 Juni 2026, Rupiah berhasil terapresiasi sebesar 0,17% dan bertengger di posisi Rp17.875 per Dolar AS. Posisi ini menunjukkan adanya momentum positif yang berkelanjutan bagi mata uang domestik.
Penguatan pagi ini berpotensi melanjutkan tren positif yang sudah terukir pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Tercatat pada hari Jumat, 26 Juni 2026, Rupiah berhasil ditutup menguat tipis sebesar 0,06% dengan level penutupan di Rp17.905 per Dolar AS.
Dengan apresiasi hari ini, mata uang Rupiah secara aktif mencoba menjauhkan diri dari zona psikologis Rp18.000 per Dolar AS yang sempat membayangi minggu lalu. Sebelumnya, Rupiah sempat tertekan hingga mencapai level terlemah harian di Rp17.985 per Dolar AS sebelum akhirnya berbalik menguat.
Tekanan yang dihadapi oleh Dolar AS di pasar global pagi ini tampak sedikit mereda, terlihat dari pergerakan Indeks Dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut terpantau stabil cenderung melemah di level 101,347 per pukul 09.00 WIB.
Pelemahan tipis Dolar AS ini terjadi seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Selain itu, penurunan harga minyak mentah global turut membantu meredakan spekulasi inflasi yang sempat membayangi pasar keuangan.
Pelaku pasar kini memproyeksikan peluang bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan saat ini mencapai 70,10% dalam rapat mendatang, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin diperkirakan hanya berada di angka 29,90%.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ketidakpastian pasar global yang masih terjadi. Hal ini menjadi jangkar penting bagi kepercayaan pelaku pasar terhadap mata uang Garuda.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan mengenai kebijakan terkait transaksi valuta asing mata uang asing. "Boleh transaksi dolar AS lebih dari US$10.000, tapi harus ada dokumen underlying jelas, jadi kita bukan membatasi, orang gak boleh transaksi dolar gitu, rupiah ke dolar enggak tapi kita hanya ingin mengatur, menata ulang tata kelolanya," kata Destry, dikutip dari Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Senin (29/6/2026).