TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (13/7/2026), terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda tercatat dibuka pada posisi Rp18.075 per dolar AS, menandai depresiasi sebesar 0,17%.
Tren pelemahan ini merupakan kelanjutan dari sentimen pasar, setelah pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya, Jumat (10/7/2026), rupiah sempat berhasil menguat dan ditutup di level Rp18.045 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,22% ke angka 101,178.
Penguatan indeks dolar AS pada pagi ini mengindikasikan adanya peningkatan minat pelaku pasar untuk memburu aset-aset yang berdenominasi dolar AS. Kondisi ini secara otomatis membatasi ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Dolar AS mengalami penguatan di pasar global akibat meningkatnya kembali konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi dan kembali menempatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral global menjadi sorotan utama pasar.
Pada akhir pekan lalu, pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan kembali saling melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone. Iran dilaporkan menargetkan fasilitas AS di beberapa negara Teluk pada Minggu, sembari kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur krusial bagi perdagangan energi dunia.
Perkembangan dramatis ini langsung memberikan dampak signifikan pada harga minyak di awal perdagangan Asia. Harga minyak Brent tercatat mengalami kenaikan sebesar 3,3%, mencapai level US$78,49 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian serius karena berpotensi menambah tekanan inflasi global. Bagi pasar keuangan, peningkatan inflasi dapat memperbesar kemungkinan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), untuk kembali menaikkan suku bunganya.