TREN.BISNISMARKET.COM - Apa yang terjadi pada saham dua bank terbesar di Indonesia, yakni BBCA (Bank Central Asia) dan BBRI (Bank Rakyat Indonesia), baru-baru ini? Kedua saham unggulan ini tercatat mengalami pelemahan signifikan hingga menyentuh level terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Fakta menarik yang menyertai penurunan harga ini adalah adanya aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh investor asing. Data menunjukkan bahwa total nilai penjualan bersih (net sell) yang dilepaskan oleh investor asing dari kedua saham ini mencapai nominal fantastis, yakni sekitar Rp 42 triliun.

Di tengah sentimen negatif dan koreksi harga yang dalam ini, muncul pandangan berbeda dari kalangan analis pasar modal. Mereka justru melihat kondisi ini sebagai sebuah peluang investasi yang sangat menarik bagi investor jangka panjang.

Koreksi ekstrem yang dialami oleh saham BBCA dan BBRI ini dinilai oleh sebagian analis sebagai sebuah "diskon ekstrem" terhadap fundamental perusahaan yang masih sangat kuat. Hal ini berarti harga jual saat ini jauh di bawah valuasi intrinsik yang seharusnya.

Salah satu analis pasar modal menyampaikan pandangannya mengenai situasi yang terjadi di bursa saham. "Penurunan harga saham BBCA dan BBRI hingga menyentuh rekor terendah lima tahun ini justru memberikan kesempatan emas bagi investor ritel untuk mengakumulasi saham," ujar Analis Pasar Modal tersebut.

Bagaimana seharusnya investor menyikapi situasi ini? Para pakar menyarankan agar investor tidak panik, melainkan melakukan evaluasi ulang terhadap portofolio mereka. Strategi investasi yang disarankan adalah fokus pada fundamental jangka panjang perusahaan perbankan tersebut.

Investor yang memiliki pandangan jangka panjang disarankan untuk memanfaatkan momentum penurunan harga ini sebagai momentum strategis untuk melakukan pembelian bertahap. Hal ini sejalan dengan prinsip investasi nilai (value investing) ketika harga pasar lebih rendah dari nilai intrinsik.

Strategi investasi yang perlu diterapkan saat ini adalah pembelian secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA) untuk memitigasi risiko volatilitas jangka pendek. Dengan demikian, investor dapat mengamankan harga beli rata-rata yang lebih rendah.

Dilansir dari sumber berita mengenai pasar modal, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara sentimen pasar jangka pendek dan kinerja fundamental bank yang solid. Oleh karena itu, investor perlu bersikap tenang dan terukur dalam mengambil keputusan.