TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Korea Selatan kembali menunjukkan dominasinya dalam industri ponsel pintar global, setelah Samsung Electronics mencatatkan volume produksi tertinggi pada kuartal pertama tahun 2026. Data ini diperoleh dari analisis firma riset terkemuka, Trendforce, mengenai dinamika pasar perangkat seluler dunia saat ini.
Menurut data yang dirilis, Samsung berhasil memproduksi sebanyak 62,6 juta unit perangkat sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,6% dibandingkan kuartal sebelumnya dan peningkatan 2,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja positif Samsung ini sebagian besar didorong oleh strategi efektif mereka dalam menambah stok produksi untuk lini _smartphone_ unggulan, yaitu seri Galaxy S terbaru. Selain itu, fundamental keuangan Samsung Group yang kuat turut membantu perusahaan mengatasi tekanan inflasi biaya komponen.
Firma riset Trendforce memberikan catatan bahwa meskipun Samsung berada di posisi teratas, ada potensi kerentanan yang perlu diwaspadai. "Meski demikian, paparan signifikan pada model kelas bawah tetap jadi kekhawatiran. Khususnya di tengah melemahnya sentimen konsumen. Ini membuat permintaan pasar akhir jadi faktor kunci yang perlu dipantau," kata Trendforce, dikutip Kamis (11/6/2026).
Di posisi kedua, Apple berhasil mengamankan pangsa pasar yang signifikan dengan mencatatkan produksi total 60,2 juta unit ponsel pintar. Peningkatan tahunan produksi Apple mencapai 19,7%, sebuah lonjakan yang cukup substansial di tengah kondisi pasar yang menantang.
Pertumbuhan Apple diperkuat oleh penerimaan pasar yang baik terhadap model iPhone terbarunya, ditambah dengan peluncuran model baru seperti iPhone 17e yang menarik konsumen. Apple juga menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik dalam menyerap kenaikan biaya produksi memori.
"Trendforce meyakini Apple cenderung memprioritaskan perluasan pangsa pasar selama penurunan ekonomi saat ini, karena menjadi landasan untuk pertumbuhan pendapatan perangkat lunak dan layanan berulang di masa depan," jelas Trendforce.
Sementara itu, produsen asal Tiongkok mendominasi posisi selanjutnya, dengan Oppo berada di urutan ketiga dengan 29,5 juta unit, diikuti oleh Xiaomi (26 juta unit), Vivo (22 juta unit), dan Transsion (19,8 juta unit) di posisi keenam secara keseluruhan.
Namun, tiga besar produsen Tiongkok tersebut dilaporkan menghadapi tantangan operasional yang lebih besar dibandingkan dua pemimpin pasar global. "Trendforce melaporkan Oppo, Xiaomi dan Vivo mengalami ketidakpastian pada rencana produksi di tahun ini. Sebab adanya masalah lonjakan biaya memori yang membebani profitabilitas perusahaan," ujar seorang analis.