TREN.BISNISMARKET.COM - Perdebatan mengenai kemungkinan adanya kehidupan di Mars kembali memanas setelah munculnya perspektif baru dari seorang astrobiolog terkemuka. Ilmuwan tersebut mengajukan dugaan bahwa wahana eksplorasi antariksa dari Amerika Serikat mungkin secara tidak sengaja mengakhiri potensi kehidupan alien di Planet Merah.
Tokoh di balik teori mengejutkan ini adalah Dirk Schulze-Makuch, seorang peneliti astrobiologi dari Technische Universität Berlin. Ia mengemukakan bahwa eksperimen yang dilakukan oleh wahana NASA Viking 1 pada tahun 1976 berpotensi menjadi penyebab kematian organisme Mars.
Apa yang dilakukan misi Viking saat itu adalah menjalankan eksperimen biologi dasar di permukaan Mars. Eksperimen tersebut melibatkan pencampuran langsung sampel tanah Mars dengan air dan larutan nutrisi yang dibawa dari Bumi.
Asumsi mendasar NASA saat itu didasarkan pada pemahaman kehidupan di Bumi, yaitu bahwa semua organisme membutuhkan air untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, penambahan air dianggap sebagai cara untuk memicu reaksi biologis jika ada kehidupan di Mars.
Namun, menurut Schulze-Makuch, asumsi tersebut keliru dan justru berakibat fatal bagi mikroorganisme Mars yang mungkin ada. Ia berpendapat bahwa kehidupan di Mars sangat bergantung pada kondisi garam, mirip dengan beberapa organisme ekstrem di Bumi.
Organisme di lingkungan yang sangat kering, seperti mikroba di Gurun Atacama, Chili, dapat memperoleh "air" esensial dari garam yang menyerap kelembaban dari atmosfer. Garam inilah yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pencarian jejak kehidupan di Mars.
"Di lingkungan hyper-kering, kehidupan bisa mendapatkan 'air' dari garam yang menyerap kelembaban dari atmosfer. Garam ini seharusnya menajdi fokus pencarian makhluk hidup di Mars," kata Schulze-Makuch, Dilansir dari Space.com, Selasa (23/6/2026).
Schulze-Makuch menjelaskan bahwa misi Viking tanpa sengaja membunuh organisme Mars yang mereka teliti karena mereka menambahkan volume air yang terlalu banyak ke dalam sampel tanah. Hal ini menciptakan kondisi yang sangat berbeda dari habitat alami mikroba Mars.
"Jika cara pandang soal cara organisme hidup di kondisi kering Mars ini benar, artinya daripada menjalankan strategi 'ikuti air' yang selama ini digunakan NASA, lebih baik kita mengikuti garam untuk mencari mikroba," tulis Schulze-Makuch.