TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena menarik terjadi di dunia korporasi global, di mana beberapa perusahaan mulai mengubah arah kebijakan implementasi Kecerdasan Buatan (AI) mereka. Setelah sebelumnya melakukan pemangkasan besar-besaran tenaga kerja untuk digantikan oleh teknologi AI, kini muncul tren kontra dengan perekrutan kembali karyawan manusia.

Perubahan strategi ini terjadi seiring dengan meningkatnya kekhawatiran dari kalangan investor mengenai keberlanjutan dan efektivitas implementasi AI secara masif di berbagai sektor bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa optimasi penuh melalui teknologi masih menghadapi tantangan signifikan di lapangan.

Salah satu contoh terbaru adalah produsen otomotif ternama, Ford Motor Company, yang dilaporkan kembali memanggil ratusan insinyur berpengalaman. Mereka dibutuhkan untuk mengatasi berbagai isu kritis terkait kualitas produk yang gagal diselesaikan secara tuntas oleh sistem otomatis berbasis AI yang telah diterapkan.

Charles Poon, Wakil Presiden Rekayasa Perangkat Keras Kendaraan Ford, menjelaskan batasan fundamental dari teknologi ini dalam konteks operasional perusahaan. "Kecerdasan buatan adalah alat yang luar biasa, tetapi kemampuannya hanya sebaik informasi yang digunakan untuk melatihnya," jelas Charles Poon, Dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (5/7/2026).

Ford bukan satu-satunya pemain industri yang mengoreksi langkah perekrutan mereka, Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan raksasa perangkat lunak IBM juga mengalami situasi serupa. Kedua perusahaan tersebut kini kembali menekankan pentingnya peran tenaga kerja manusia setelah menemukan keterbatasan yang dihadapi oleh sistem AI mereka.

Tahun lalu, CBA sempat memberhentikan lebih dari 40 pegawai layanan pelanggan dan menggantinya dengan bot suara bertenaga AI, namun implementasi tersebut justru menyebabkan lonjakan panggilan masuk karena ketidakmampuan sistem menangani semua kebutuhan nasabah. Kondisi ini memaksa bank tersebut untuk membatalkan keputusan pemutusan hubungan kerja yang telah dibuat sebelumnya.

Serikat pekerja sektor keuangan Australia menyambut baik keputusan ini, menyatakan bahwa "Membuat CBA membatalkan pemangkasan pekerjaan ini merupakan kemenangan besar," ujar serikat pekerja sektor keuangan Australia dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut, CBA mengakui adanya kekurangan dalam proses pengambilan keputusan saat itu, yakni "kami seharusnya melakukan penilaian yang lebih menyeluruh terhadap peran-peran yang dibutuhkan," dan "CBA mengakui perusahaan 'tidak mempertimbangkan secara memadai seluruh aspek bisnis yang relevan'" ketika mengumumkan PHK, Mengutip laporan ABC pada Agustus tahun lalu.

Di sisi teknologi, IBM menghadapi masalah ketika AI yang menggantikan fungsi Sumber Daya Manusia (HR) hanya mampu menangani 94% permintaan rutin, meninggalkan 6% kasus kompleks, terutama yang melibatkan dilema etika. Oleh karena itu, IBM berencana melipatgandakan perekrutan karyawan level pemula hingga tiga kali lipat di Amerika Serikat pada tahun 2026.