TREN.BISNISMARKET.COM - Perusahaan teknologi raksasa, Uber, dan unit mobil otonom Alphabet, Waymo, dikabarkan akan mengakhiri perjanjian eksklusivitas mereka dalam bisnis taksi otomatis tanpa sopir atau robotaxi. Kerjasama yang telah terjalin selama tiga tahun ini dinilai inovatif namun berpotensi mengancam kelangsungan profesi pengemudi online.

Kemitraan antara Uber dan Waymo sebelumnya fokus pada penyediaan layanan robotaxi di dua kota besar di Amerika Serikat, yaitu Atlanta dan Austin. Melalui kolaborasi ini, Waymo menyediakan armada kendaraan otonom yang dapat dipesan oleh pengguna melalui aplikasi Uber.

Namun, perjanjian eksklusivitas tersebut dijadwalkan berakhir pada tahun 2028. Berdasarkan informasi yang beredar, Waymo berencana untuk meluncurkan aplikasinya sendiri di pasar Atlanta dan Austin, menandai langkah independen dari Uber.

"Kami telah diberitahu Waymo bahwa akan meluncurkan aplikasi Waymo di Austin dan Atlanta pada Januari 2028, bersamaan dengan peluncuran yang telah dilakukan dengan Uber," kata juru bicara Uber, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (27/7/2026). Pernyataan ini mengonfirmasi rencana perubahan signifikan dalam strategi kedua perusahaan.

Uber menjelaskan bahwa ratusan robotaxi Waymo akan tetap tersedia di platform mereka untuk wilayah Atlanta dan Austin hingga Mei 2028. Durasi ini sesuai dengan masa berlaku kontrak yang telah disepakati antara kedua perusahaan, memastikan kelancaran layanan bagi pengguna selama masa transisi.

Menanggapi perkembangan ini, juru bicara Waymo menyatakan pentingnya memberikan pilihan kepada konsumen dalam merasakan teknologi mobilitas otonom. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk memastikan aplikasi dan keamanan teknologinya dapat diakses oleh lebih banyak pengguna di berbagai lokasi.

"Ini penting untuk masa depan industri dan visi kami menjadikan aplikasi Waymo dan keamanan teknologi kami tersedia untuk pengendara di manapun," kata juru bicara Waymo. Visi ini mengindikasikan ambisi Waymo untuk berekspansi lebih luas di pasar robotaksi.

Sebelumnya, Financial Times telah melaporkan adanya potensi perpisahan antara Uber dan Waymo. Laporan tersebut menyoroti adanya diskusi internal di Waymo mengenai kelanjutan kerjasama, yang dipicu oleh ketegangan dan perbedaan pandangan strategis antara kedua perusahaan.

Salah satu isu yang menjadi sumber ketegangan adalah perbedaan usulan kebijakan terkait penetrasi pasar di berbagai wilayah. Perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya tantangan dalam menyelaraskan strategi bisnis yang berbeda antara Uber dan Waymo, terutama dalam menghadapi pasar yang dinamis.