TREN.BISNISMARKET.COM - XLSMART Telecom Sejahtera Tbk berhasil membukukan kinerja bisnis yang sangat signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan telekomunikasi ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp11,84 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026.
Angka pendapatan tersebut menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 38 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Kenaikan ini terjadi di tengah lanskap industri digital yang semakin kompetitif di Indonesia.
Faktor utama yang mendorong lonjakan pendapatan ini adalah keberhasilan integrasi pasca-merger perusahaan serta perluasan jaringan 5G yang dilakukan secara masif. Pertumbuhan ini juga tercermin pada profitabilitas perusahaan yang juga menunjukkan tren positif.
Normalized EBITDA perusahaan tercatat mencapai Rp5,43 triliun, menandai kenaikan sebesar 26 persen secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi mengalami lonjakan tajam hingga 254 persen YoY, mencapai Rp1,37 triliun.
Layanan data dan digital kini menjadi tulang punggung utama bisnis XLSMART, menyumbang sekitar 91,8 persen dari total pendapatan perusahaan. Optimalisasi layanan data bernilai tambah juga berhasil meningkatkan blended ARPU menjadi Rp47,3 ribu.
"Fokus utama XLSMART saat ini adalah memperkuat kualitas jaringan dan memperluas pengalaman 5G pelanggan di seluruh Indonesia," ujar Rajeev Sethi, Presiden Direktur & CEO XLSMART, dalam keterangan resminya pada Kamis (14/5/2026).
Rajeev Sethi menegaskan komitmen perusahaan untuk memastikan pelanggan mendapatkan akses internet yang cepat dan stabil melalui infrastruktur yang semakin kuat dan terintegrasi. "Dengan infrastruktur yang semakin kuat dan terintegrasi, kami berada pada posisi yang lebih siap untuk menghadirkan kualitas layanan yang semakin baik bagi pelanggan," imbuhnya.
Transformasi jaringan yang dijalankan perusahaan berdampak langsung pada peningkatan kapasitas layanan, di mana trafik data melonjak 36 persen YoY menjadi 3.867 Petabytes hingga akhir Maret 2026. Peningkatan trafik ini dipicu oleh tingginya penggunaan layanan streaming video, gim mobile, dan teknologi berbasis cloud.
Untuk mendukung lonjakan trafik tersebut, jumlah Base Transceiver Station (BTS) perusahaan kini telah mencapai lebih dari 253 ribu unit, tumbuh 54 persen YoY. Manajemen juga telah mengintegrasikan sekitar 40,3 ribu site jaringan dan merampungkan 77 persen target tower dismantling pasca-merger.