TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah visi yang melampaui batas-batas konvensional kini tengah digagas di Jepang, yakni membangun pembangkit listrik bukan di Bumi, melainkan di permukaan Bulan. Ide ambisius ini muncul sebagai respons terhadap pencarian alternatif energi yang dianggap lebih aman dan berkelanjutan untuk masa depan.

Inisiatif futuristik ini diprakarsai oleh Shimizu Corporation melalui sebuah konsep yang mereka namakan Luna Ring. Rencana utamanya adalah mendirikan sabuk panel surya kolosal yang membentang sepanjang lebih dari 11.000 kilometer di sekitar ekuator Bulan.

Sabuk panel surya raksasa tersebut dirancang untuk menangkap energi matahari secara optimal, mengubahnya menjadi listrik, dan kemudian mentransmisikannya kembali ke planet Bumi. Proses transmisi energi ini direncanakan menggunakan teknologi canggih berupa gelombang mikro dan pancaran laser berenergi tinggi.

Keunggulan utama dari konsep ini terletak pada efisiensi penerimaan sinar matahari di Bulan yang jauh lebih superior dibandingkan di Bumi. Di sana, sel surya dapat menerima paparan langsung tanpa terhalang oleh atmosfer maupun kondisi cuaca seperti tutupan awan.

Selain itu, wilayah ekuator Bulan menawarkan keuntungan berupa penerangan yang hampir konstan pada salah satu sisinya yang selalu menghadap Bumi, menjamin pasokan energi yang minim interupsi.

Mekanisme kerjanya adalah sel surya akan menghasilkan listrik yang dialirkan melalui kabel menuju sisi Bulan yang menghadap Bumi. Listrik yang terkumpul selanjutnya akan dikonversi menjadi pancaran gelombang mikro dan laser yang diarahkan ke stasiun penerima di Bumi.

Stasiun penerima di Bumi, yang disebut rectenna, bertugas mengubah gelombang mikro tersebut kembali menjadi listrik arus searah (DC) yang siap digunakan oleh masyarakat luas. Shimizu Corporation bahkan mengklaim bahwa proyek ini berpotensi menghasilkan listrik hingga 13.000 terawatt daya.

Angka tersebut setara dengan lima ratus kali lipat konsumsi listrik global saat ini, menunjukkan skala potensi energi yang luar biasa dari inisiatif ini. Dilansir dari Ecoportal, gagasan ini pertama kali terungkap pada Rabu (1/7/2026).

Namun, proyek raksasa ini masih berada dalam tahapan penelitian mendalam, terutama mengenai aspek teknis transmisi energi ke Bumi. "Ide ini memiliki keunggulan. Sebab tenaga Matahari bisa diterima lebih baik di Bulan dibandingkan atap atau ladang luas yang berada di Bumi," ujar seorang peneliti terkait proyek tersebut.