TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia menjadi lokasi pembahasan mengenai pandangan berbeda CEO Meta, Mark Zuckerberg, terkait potensi ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap sektor ketenagakerjaan. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran publik yang meningkat mengenai risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat otomatisasi.

Zuckerberg mengungkapkan bahwa ia tidak terlalu mencemaskan risiko hilangnya pekerjaan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi AI. Pandangan ini kontras dengan asumsi umum yang beredar di masyarakat luas mengenai masa depan dunia kerja.

"Sebenarnya saya tidak berpikir begitu," kata Zuckerberg, merespons kekhawatiran bahwa otomatisasi akan menyebabkan kehilangan pekerjaan secara massal, sebagaimana dikutip dari Fast Company pada Rabu (1/7/2026).

Ia menilai bahwa situasi perusahaan akan membaik jika ada fokus strategis pada pengembangan kecerdasan super pribadi (personal superintelligence). Pendekatan ini berbeda jika dibandingkan dengan skenario di mana otomatisasi mengambil alih semua pekerjaan berbasis pengetahuan.

Menurut Zuckerberg, keseimbangan optimal tercipta ketika sebagian perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi kerja secara umum. Sementara itu, perusahaan lain fokus pada visi kecerdasan super personal yang bertujuan memberdayakan individu dan meningkatkan produktivitas mereka.

Di lingkungan Meta sendiri, Zuckerberg menegaskan bahwa pengembangan AI diarahkan untuk mengutamakan pendekatan yang berpusat pada individu. Kekuatan teknologi tersebut harus berada di tangan masyarakat luas, bukan terkonsentrasi pada satu entitas tunggal atau terpusat.

Zuckerberg menekankan pentingnya desentralisasi kekuatan AI dalam pernyataannya, "Saya tidak ingin hidup di masa depan saat hanya ada satu AI besar. Saya pikir itu buruk, sehebat apapun AI itu tidak baik," jelasnya.

Pandangan Zuckerberg ini melengkapi diskusi hangat yang telah disuarakan oleh para pemimpin industri teknologi lainnya mengenai isu pekerjaan dan AI. Berbagai tokoh telah menyajikan prediksi yang bervariasi mengenai transformasi pasar tenaga kerja.

Jensen Huang, bos Nvidia, misalnya, menyatakan bahwa AI justru menjadi alasan untuk tidak melakukan PHK, berbeda dengan prediksi lainnya. Dilansir dari Fast Company, ia memberikan perspektif bahwa teknologi ini justru menciptakan kebutuhan baru.