TREN.BISNISMARKET.COM - Peradaban kuno di Timur Tengah kini menghadapi krisis eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua sungai vital, Eufrat dan Tigris, yang telah menjadi denyut nadi kehidupan dan melahirkan peradaban-peradaban besar selama ribuan tahun, kini berada di ambang kekeringan permanen.
Ancaman ini bukan sekadar prediksi, melainkan kenyataan yang semakin mendekat. Para ilmuwan memperkirakan kedua sungai ikonik ini bisa mengering dalam beberapa dekade mendatang, sebuah fenomena yang dipicu oleh perubahan iklim global dan penurunan drastis debit air.
Kawasan yang diapit oleh Sungai Eufrat dan Tigris ini, yang dikenal sebagai Mesopotamia, memiliki signifikansi historis yang mendalam. Para arkeolog meyakini wilayah ini sebagai tempat lahirnya peradaban manusia pertama, termasuk kota-kota megah seperti Uruk dan Babilonia di Irak modern.
Fenomena kekeringan yang melanda kedua sungai ini ternyata telah lama diisyaratkan dalam ajaran Islam. Sebuah hadis Nabi Muhammad SAW secara spesifik menyebutkan bahwa Sungai Eufrat akan mengering sebelum datangnya hari kiamat, menandakan sebuah peristiwa besar yang akan terjadi.
"Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya," demikian bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Muslim No. 2894.
Sungai Eufrat, yang merupakan sistem sungai terbesar di Asia Barat, memiliki perjalanan panjang melintasi Turki, Suriah, dan Irak sebelum akhirnya bermuara di Teluk Persia. Alirannya yang berdampingan dengan Sungai Tigris telah menciptakan dataran yang sangat subur.
Namun, kondisi terkini menunjukkan penurunan drastis. Sebuah laporan dari Kementerian Sumber Daya Air pada tahun 2021 memberikan peringatan dini bahwa sungai-sungai ini berpotensi mengering sepenuhnya pada tahun 2040.
Penyebab utama dari fenomena mengeringnya sungai ini adalah dampak perubahan iklim yang menyebabkan penurunan permukaan air dan kekeringan yang berkepanjangan. Hal ini berdampak signifikan pada ekosistem dan kehidupan manusia di sekitarnya.
Dalam beberapa dekade terakhir saja, aliran air di sistem sungai Eufrat-Tigris telah berkurang hampir separuhnya. Citra satelit menunjukkan hilangnya 144 kilometer kubik air tawar antara tahun 2003 hingga 2013, sebuah volume yang sangat mengkhawatirkan.