TREN.BISNISMARKET.COM - Kawasan Timur Tengah kini tengah menghadapi tantangan ekologis yang sangat serius dan mengkhawatirkan di era modern. Ancaman ini berpusat pada sistem kembar Sungai Eufrat dan Tigris, yang selama ribuan tahun menjadi sumber utama kehidupan dan peradaban di wilayah tersebut.
Berdasarkan analisis terkini, kedua sungai vital tersebut dilaporkan berada dalam kondisi penyusutan drastis. Para ahli memproyeksikan bahwa jika tren ini berlanjut, sistem sungai ini berpotensi mengering total sebelum tahun 2040 mendatang.
Fenomena mengkhawatirkan ini ternyata memiliki resonansi historis, sejalan dengan peringatan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW mengenai tanda-tanda akhir zaman. Peringatan tersebut mencakup peristiwa terkait kekeringan sungai besar di wilayah tersebut.
Dilansir dari CNBC Indonesia, salah satu hadis yang sering dirujuk adalah sabda Nabi Muhammad SAW mengenai kekeringan Sungai Eufrat. Dalam riwayat tersebut, disebutkan bahwa kekeringan sungai ini akan menyingkap gunung emas yang memicu peperangan antarmanusia.
Merujuk pada sumber aslinya, hadis riwayat Imam Muslim tersebut secara spesifik menyebutkan, "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya" (HR. Muslim No. 2894).
Secara ilmiah, kekhawatiran mengenai pengeringan sungai ini bukanlah spekulasi semata, melainkan didukung oleh data konkret. Kementerian Sumber Daya Air setempat serta berbagai studi internasional mengonfirmasi penyusutan debit air yang signifikan.
Data menunjukkan bahwa debit air pada sistem sungai Eufrat-Tigris telah berkurang hampir separuhnya hanya dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Hal ini mengindikasikan percepatan laju kerusakan lingkungan di kawasan tersebut.
Wilayah yang dialiri kedua sungai ini dikenal secara historis sebagai Mesopotamia, yang kini sebagian besar mencakup wilayah Irak. Daerah ini merupakan tempat lahirnya peradaban besar seperti Uruk dan Babilonia karena kesuburan tanahnya yang ideal untuk pertanian.
Namun, dampak perubahan iklim, termasuk kenaikan suhu bumi ekstrem dan penurunan curah hujan yang substansial, mengubah wilayah subur tersebut menjadi daratan yang tandus. Citra satelit menunjukkan kehilangan air tawar mencapai sekitar 144 kilometer kubik hanya dalam sepuluh tahun terakhir.