TREN.BISNISMARKET.COM - Sejarah mencatat adanya jurang pemisah antara kemewahan para penguasa dan kesengsaraan rakyat, sebuah fenomena yang telah membentang sejak era kolonial di Indonesia. Di masa sulit tersebut, segelintir elit lokal justru menikmati kekayaan melimpah yang dihasilkan dari sistem ekonomi yang dibangun oleh pemerintahan kolonial.
Fenomena ini terekam jelas dalam catatan sejarah Cianjur, Jawa Barat, pada awal abad ke-19. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu daerah paling subur di Pulau Jawa, terutama berkat pesatnya produksi komoditas perkebunan yang sangat berharga, yaitu kopi.
Melimpahnya hasil panen kopi menjadikan Cianjur sebagai salah satu pusat produksi terbesar di kawasan Priangan. Keuntungan besar dari komoditas ini secara langsung mengangkat taraf ekonomi dan status sosial para elit di daerah tersebut, tak terkecuali para bupati yang memimpin wilayah itu.
Para sejarawan mencatat bahwa para bupati pada masa itu menduduki posisi sebagai kelompok paling kaya di wilayah mereka. Sumber pemasukan mereka tidak hanya berasal dari gaji resmi, tetapi juga dari pungutan pajak dan praktik-praktik feodalisme yang tidak tertulis.
Menurut sejarawan Jan Breman dalam bukunya "Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870" (2014), pada periode tanam paksa kopi antara tahun 1830 hingga 1870, Cianjur menjadi daerah penghasil kopi terbesar di seluruh wilayah Priangan. Pada tahun 1806 saja, produksi kopi dari Cianjur dilaporkan mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 1,5 juta kilogram.
Kekayaan yang melimpah ini kemudian turut mendongkrak posisi dan pengaruh para elit lokal, termasuk para bupati, yang menikmati limpahan keuntungan dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu.
Namun, kemakmuran yang dihasilkan dari perkebunan kopi ini tidak dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebaliknya, rakyat jelata justru menanggung beban yang sangat berat akibat diberlakukannya sistem tanam paksa kopi. Kerja keras para petani menjadi tulang punggung kekayaan daerah, namun hasil jerih payah mereka lebih banyak mengalir ke kas pemerintah kolonial dan dinikmati oleh para elit lokal, termasuk para bupati.
Jan Breman juga mencatat bagaimana Bupati Cianjur pada masa itu dikenal dengan gaya hidupnya yang sangat mewah. Sang bupati kerap terlihat melakukan perjalanan menggunakan kereta yang dilapisi emas, sebuah simbol kemewahan yang menyerupai gaya hidup para bangsawan besar.
"Layaknya tuan besar konsumtif, mereka berbelanja barang mewah dengan harga tinggi. Di saat pulangnya mereka membawa candu, tembakau, dan katun, barang-barang yang akan dijual kepada kepala bawahannya," tulis Breman.