TREN.BISNISMARKET.COM - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengumumkan penambahan saham dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC). Update terbaru per Rabu, 15 Juli 2026, pukul 08.00 WIB, mencatat total 51 saham kini masuk dalam kategori ini.
Peningkatan transparansi data kepemilikan saham ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan para investor di pasar modal Indonesia. Data tersebut disusun berdasarkan metodologi khusus yang menganalisis struktur kepemilikan saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat, per tanggal 30 Juni 2026.
Di balik daftar saham HSC ini, teridentifikasi sejumlah grup konglomerat besar yang memegang kendali atau kepemilikan saham signifikan. Grup Salim, misalnya, tercatat memiliki keterkaitan dengan empat saham dalam kategori HSC.
Menyusul jejak Grup Salim, Grup Sinar Mas juga teridentifikasi terkait dengan lima saham HSC. Selain itu, konglomerasi Keluarga Tahir dan Keluarga Riady masing-masing memiliki keterkaitan dengan dua saham HSC.
"HSC merupakan kategori saham yang mayoritas kepemilikannya dikuasai oleh satu pihak atau kelompok pihak yang terafiliasi, sehingga jumlah saham yang beredar di publik relatif terbatas," demikian penjelasan mengenai kategori HSC.
Informasi mengenai saham HSC ini dipublikasikan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan transparansi dan perlindungan bagi investor di pasar modal. Ini bertujuan agar investor memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai struktur kepemilikan saham.
"Saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi dinilai memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan saham dengan free float besar," ungkap sumber terpercaya. Hal ini dikarenakan kendali harga dan likuiditas lebih banyak berada di tangan segelintir pihak, bukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar.
Adanya penguasaan oleh segelintir pihak ini dapat menyebabkan volume transaksi menjadi terbatas. Akibatnya, investor mungkin akan menghadapi kesulitan saat berupaya menjual sahamnya, terutama ketika pasar sedang bergejolak.
"Kepemilikan yang terbatas juga memungkinkan harga melonjak sangat tinggi dan jatuh dalam hanya karena transaksi kecil dari pemilik utama," jelas seorang analis pasar modal. Hal ini menunjukkan bahwa harga yang dikontrol oleh segelintir pihak belum tentu mencerminkan kondisi pasar saham secara keseluruhan.