TREN.BISNISMARKET.COM - Krisis kelangkaan chip memori global telah menimbulkan dampak signifikan terhadap industri perangkat elektronik konsumen, termasuk laptop, ponsel pintar, dan konsol gim. Lonjakan biaya komponen perangkat keras ini mulai terasa dampaknya pada berbagai produsen besar di dunia.
Bahkan perusahaan elektronik ternama, seperti Apple dan Sony, telah mengumumkan penyesuaian harga jual produk mereka sebagai respons terhadap kenaikan biaya komponen tersebut. Hal ini menunjukkan skala tantangan yang dihadapi industri secara keseluruhan.
Beberapa analis sebelumnya telah memberikan peringatan bahwa peningkatan harga komponen ini akan sangat memukul industri ponsel pintar asal China. Hal ini disebabkan karena merek-merek tersebut mayoritas menargetkan segmen konsumen dengan perangkat berharga terjangkau atau entry-level.
Bukti nyata dari prediksi tersebut mulai terlihat dari laporan firma riset terkemuka, Counterpoint dan IDC, pada kuartal pertama tahun 2026. Laporan tersebut menunjukkan adanya penurunan volume pengapalan ponsel pintar secara keseluruhan, dengan merek-merek China mencatat penurunan paling tajam.
Menurut informasi terbaru yang diolah dari Nikkei Asia, tiga merek besar ponsel China, yaitu Xiaomi, Vivo, dan Oppo, dikabarkan telah mengambil langkah drastis. Mereka dilaporkan sepakat memangkas target pengapalan ponsel mereka untuk tahun 2026 hingga mencapai angka 30%.
Dilansir dari Android Headlines, Rabu (1/7/2026), keputusan ini diambil di tengah kondisi permintaan pasar yang memang cenderung fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir. Terdapat beberapa faktor yang diyakini memicu pemangkasan target ambisius tersebut.
Salah satu faktornya adalah potensi permintaan yang lebih tinggi untuk ponsel yang diluncurkan dengan desain benar-benar baru dan peningkatan hardware signifikan, dibandingkan pembaruan yang sifatnya hanya inkremental atau sedikit perubahan. Selain itu, kondisi ekonomi makro juga turut memengaruhi daya beli konsumen.
Namun, faktor yang paling tidak bisa diabaikan adalah dampak langsung dari kelangkaan komponen dan kenaikan harga jual perangkat, yang pada akhirnya membuat permintaan pasar menjadi lesu. Hal ini mencakup komponen krusial seperti memori penyimpanan, RAM, hingga PCB dan suku cadang pendukung lainnya.
Akibat dari kendala pasokan ini, perusahaan-perusahaan tersebut kini menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam merencanakan volume produksi mereka secara akurat. Spekulasi muncul bahwa jika situasi pasokan tidak membaik, peluncuran produk baru bisa mengalami penundaan.