TREN.BISNISMARKET.COM - Fenomena unik terjadi di Spanyol menyusul pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala besar yang masif di negara tersebut. Lonjakan produksi energi bersih ini secara langsung menyebabkan harga jual listrik mengalami penurunan signifikan hingga mencapai titik terendah di Eropa.

Kondisi ini menciptakan situasi paradoks bagi perekonomian Spanyol, di mana konsumen menikmati tarif listrik yang sangat murah. Namun, di sisi lain, para investor dan pemilik pembangkit menghadapi kerugian besar dan mulai berupaya menjual aset mereka.

Data dari OMIE menunjukkan betapa drastisnya penurunan harga jual listrik di Spanyol dalam beberapa tahun terakhir. Harga rata-rata per kWh anjlok dari sekitar Rp 2.850 pada tahun 2022 menjadi hanya Rp 1.110 pada tahun 2025.

Situasi semakin ekstrem pada periode Januari hingga Mei 2026, di mana harga listrik rata-rata berkisar antara Rp 680 hingga Rp 760 per kWh. Hal ini menunjukkan tekanan jual yang sangat besar akibat kelebihan pasokan energi.

Bahkan, dalam beberapa momen di tahun 2026, tarif listrik sempat jatuh ke level harga negatif (negative price). Pada kondisi ini, pemilik pembangkit justru diharuskan membayar kepada perusahaan transmisi agar listrik yang mereka hasilkan dapat diserap oleh jaringan.

Pada paruh pertama tahun 2026, ditemukan bahwa jumlah jam dengan tarif nol atau negatif telah melebihi total akumulasi sepanjang tahun 2025. Ini mengindikasikan bahwa pada hari yang cerah, produsen rela mengeluarkan biaya sekitar €5 hingga €25 (setara Rp 102 ribu hingga Rp 511 ribu) per MWh agar kelebihan listriknya terambil.

Keberhasilan Spanyol menarik investasi energi terbarukan lebih dari US$ 80 miliar (sekitar Rp 1.434 triliun) menjadi akar masalah ini. Peningkatan kapasitas PLTS yang melampaui permintaan domestik saat cuaca panas ekstrem menyebabkan kelebihan pasokan yang tidak bisa ditampung pasar.

Penurunan harga yang ekstrem ini telah menggerus margin keuntungan perusahaan pengelola pembangkit secara signifikan. Mengenai kondisi ini, Daniel Pérez, pimpinan perusahaan listrik L'Energètica, mengakui dampak buruknya.

"Kondisi ekonomi usaha sudah merosot begitu parah, hingga para investor berusaha melepas asetnya dengan potongan harga yang cukup besar," ujar Daniel Pérez seperti dikutip dari Bloomberg.