TREN.BISNISMARKET.COM - Perjalanan luar biasa Djoko Susanto, sosok di balik kesuksesan Alfamart, dimulai dari lingkungan yang jauh dari gemerlap bisnis ritel modern. Sebelum membangun jaringan toko yang kini mencapai lebih dari 23.000 gerai, Djoko muda aktif membantu ibunya mengelola sebuah warung kelontong di kawasan Petojo, Jakarta.

Ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan dunia perdagangan, sebuah latar belakang yang kelak membentuk jejak langkahnya. Setelah sempat meniti karier di industri perakitan radio, Djoko memutuskan untuk kembali dan mendedikasikan diri pada usaha keluarga. Keputusan ini menjadi titik awal yang krusial bagi transformasinya menjadi salah satu pengusaha ritel terkemuka di Indonesia.

Dari warung sederhana bernama Toko Sumber Bahagia, Djoko menimba berbagai ilmu dasar dalam menjalankan bisnis. Pengalaman langsung melayani pelanggan, mengelola stok barang, hingga menjaga operasional harian menjadi bekal berharga dalam membangun imperium bisnis yang kini tersebar luas.

Awalnya, warung tersebut menyediakan beragam kebutuhan pokok seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun, dan rokok. Seiring perkembangan waktu, fokus usaha mulai bergeser ke penjualan rokok dalam skala yang lebih besar, dengan menjalin kemitraan strategis bersama Gudang Garam.

Penjualan rokok yang menunjukkan tren positif membuka peluang baru yang tak terduga. "Bahkan, tulis Sam Setyautama, pada 1987 Djoko sudah punya 15 jaringan toko grosir dan terpilih sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar."

Kesuksesan Djoko dalam memasarkan produk rokok ini rupanya menarik perhatian jajaran petinggi PT HM Sampoerna, khususnya Putera Sampoerna. Pertemuan keduanya pada akhir 1986 menjadi momen penting yang secara fundamental mengubah arah hidup Djoko.

"Pertemuannya dengan Putera Sampoerna, bos PT HM Sampoerna akhir 1986 mengubah nasibnya secara total. Ia diangkat menjadi direktur penjualan PT Sampoerna yang membawa PT HM Sampoerna ke peringkat kedua terbesar setelah Gudang Garam," tulis Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa Di Indonesia (2008).

Berkat kepiawaiannya dalam strategi pemasaran rokok, Djoko juga dipercaya memegang posisi direktur di PT Panarmas, sebuah perusahaan yang bergerak sebagai distributor rokok Sampoerna. Dalam perannya di sini, ia turut berkontribusi dalam peluncuran merek baru Sampoerna, yaitu Sampoerna A Mild, pada tahun 1989.

Merek rokok tersebut kelak menjadi salah satu yang paling populer di pasaran Indonesia. Pada momen peluncuran produk baru inilah, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo pada tahun 1989. Pendirian perusahaan ini dilakukan dengan mengubah sebuah gudang milik Sampoerna di Jl. Lodan No. 80.