TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tengah mendisrupsi industri perangkat lunak secara global, memaksa perusahaan teknologi besar untuk meninjau ulang strategi bisnis mereka.
Fenomena ini turut dirasakan oleh IBM, sebuah nama besar dalam dunia teknologi yang kini menghadapi tantangan signifikan dalam menghadapi pergeseran prioritas belanja klien.
CEO IBM, Arvind Krishna, dalam sebuah surat kepada investor pada bulan Juni lalu, mengungkapkan adanya perubahan mendasar dalam alokasi anggaran, dari perangkat lunak ke infrastruktur pusat data.
"Dalam beberapa minggu terakhir bulan Juni, kami melihat pengeluaran belanja modal triwulan dari pembelian server, penyimpanan, dana memori untuk mengamankan infrastruktur yang terbatas pasokannya jelang kenaikan harga," ujar Arvind Krishna.
Perubahan mendadak ini, menurut Krishna, sulit diantisipasi sepenuhnya oleh perusahaan, meskipun mereka sudah memperkirakan adanya dampak terkait rantai pasokan.
"Meski kami mengantisipasi sejumlah dampak terkait rantai pasokan, kami tidak bisa mengantisipasi besarnya perubahan prioritas belanja modal," tambahnya.
Krishna juga secara terbuka mengakui bahwa bisnis mainframe, yang mencakup penjualan komputer dan perangkat lunak berkinerja tinggi, menjadi salah satu titik lemah perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar saat ini.
IBM memproyeksikan pendapatan kuartal kedua hanya akan mengalami peningkatan tipis sebesar 1% menjadi US$17,2 miliar, suatu angka yang lebih rendah dibandingkan perkiraan para analis yang mencapai US$17,86 miliar.
Selain itu, perkiraan laba per saham perusahaan juga diprediksi berada di angka US$2,93, sedikit di bawah estimasi analis sebesar US$3,02.