TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah temuan mengejutkan datang dari arsip British Antarctic Survey di Inggris, di mana sebuah fosil yang tersimpan selama lebih dari 40 tahun akhirnya teridentifikasi sebagai tulang dinosaurus pertama yang pernah dikoleksi dari Antartika. Fosil tersebut merupakan artefak bersejarah yang awalnya ditemukan dalam ekspedisi panjang di benua paling selatan Bumi.

Penemuan awal fosil ini terjadi sekitar empat dekade lalu oleh dua ilmuwan geologi, yakni Michael Thomson dari Inggris dan Reinhard Förster dari Jerman, saat mereka berpartisipasi dalam ekspedisi British Antarctic Survey. Lokasi penemuan spesifiknya adalah di Pulau James Ross, yang terletak di sisi tenggara wilayah Antartika.

Selama pemetaan lapisan batuan pada musim panas ekspedisi tersebut, kedua ilmuwan berhasil mengumpulkan berbagai macam fosil, mulai dari sisa tumbuhan, sisik ikan bertulang, hingga jejak invertebrata. Di antara temuan tersebut, terdapat sebuah ruas tulang belakang berukuran besar yang kemudian dibawa dan disimpan dalam arsip di Inggris.

Catatan lapangan yang ditinggalkan oleh Michael Thomson saat itu hanya memberikan deskripsi singkat dan sebuah sketsa kecil mengenai tulang belakang tersebut, mengklasifikasikannya sebagai salah satu dari sekian banyak temuan hari itu. Akibatnya, selama lebih dari empat dekade, tulang itu luput dari penelitian lebih lanjut dan hanya menjadi bagian dari koleksi arsip.

Beberapa tahun belakangan, paleontolog Mark Evans yang kini mengelola koleksi geologi dan laboratorium di British Antarctic Survey menemukan kembali fosil yang terlupakan tersebut. Setelah pengamatan awal, Evans memiliki firasat kuat mengenai identitas spesimen tersebut.

"Saat pertama kali melihat tulang ini di koleksi kami beberapa tahun lalu, saya menduga ini adalah dinosaurus," ujar Evans, Dilansir dari Science Alert, Rabu (1/7/2026).

Setelah dilakukan analisis mendalam oleh Evans dan timnya, mereka mengonfirmasi bahwa fosil tersebut adalah spesimen yang sangat langka, yaitu tulang ekor bagian atas dari dinosaurus jenis sauropoda yang hidup pada akhir periode Kapur atau Late Cretaceous. Penemuan ini secara resmi menjadikannya spesimen dinosaurus Antartika paling awal yang pernah dikoleksi.

Lebih lanjut, temuan ini juga tercatat sebagai tulang sauropoda kedua yang pernah berhasil ditemukan di kawasan Antartika, sebuah benua yang secara historis dikenal memiliki jumlah fosil dinosaurus paling sedikit dibandingkan benua lainnya. Para peneliti menduga minimnya penemuan disebabkan oleh tutupan es permanen yang menutupi sebagian besar wilayah saat ini.

Berdasarkan morfologi tulang yang khas—ditandai dengan lekukan cekung di satu sisi dan permukaan cembung di sisi lainnya—tim peneliti berhasil mengidentifikasi fosil tersebut sebagai anggota kelompok Eutitanosauria. Struktur internalnya kemudian mengarah pada klasifikasi sebagai lithostrotian titanosaur.