TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada hari Selasa, 30 Juni 2026, dibuka dengan sentimen negatif yang kuat, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak pekan sebelumnya. IHSG langsung anjlok, menandakan berakhirnya semester I tahun 2026 dengan catatan kurang memuaskan bagi para investor.

Pada pukul 09.00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terkoreksi sedalam 0,33%, setara dengan penurunan 19,33 poin, sehingga berada di level 5.801,45. Meskipun dibuka melemah, kondisi pasar memburuk beberapa menit kemudian, di mana IHSG terperosok hingga koreksi lebih dari 3%.

Penurunan tajam tersebut membuat IHSG menyentuh level psikologis penting di 5.638, menunjukkan tekanan jual yang dominan sepanjang pagi hari. Dalam sesi tersebut, tercatat sebanyak 555 saham mengalami pelemahan harga, berbanding hanya 67 saham yang berhasil menguat, sementara 97 saham lainnya bergerak stagnan.

Total nilai transaksi pada pembukaan sesi tercatat mencapai sekitar Rp4,64 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 6,86 miliar lembar saham yang diperdagangkan melalui 475 ribu kali transaksi. Beberapa emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan hari itu didominasi oleh saham-saham unggulan, yakni BBCA, BBRI, BMRI, DSSA, dan MAPI.

Seluruh sektor industri yang tercatat di bursa dilaporkan ikut melemah secara serentak, termasuk saham-saham blue chip dan perusahaan konglomerasi besar di Indonesia yang terkoreksi cukup dalam. Secara spesifik, saham-saham dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu tercatat kompak melemah, demikian pula saham perbankan, BUMN, serta emiten sektor tambang timah dan emas.

Kondisi pasar ini terjadi menjelang penutupan resmi perdagangan paruh pertama atau semester I tahun berjalan, di mana para pelaku pasar berharap bursa dapat segera bangkit pada semester II. Sentimen positif yang diharapkan muncul dari meredanya ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil US Treasury, serta jaminan pemerintah terkait defisit APBN.

Namun, sentimen tersebut dapat terancam oleh rilis data pekerjaan AS, khususnya JOLTs, yang jika menunjukkan penguatan dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk mengambil sikap yang lebih hawkish. Mengenai ketegangan global, Iran menegaskan bahwa agenda pertemuan negosiasi dengan utusan Amerika Serikat di Doha belum ada, meskipun kedua negara sama-sama mengirimkan delegasi ke Qatar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan ketidaksesuaian jadwal pertemuan tersebut. "Kami tidak akan menggelar perundingan dengan pihak AS dalam beberapa hari ke depan," ujarnya. Perbedaan pernyataan ini mencerminkan rapuhnya gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni untuk menghentikan konflik yang sempat mengganggu lalu lintas minyak dunia di Selat Hormuz.

Di sisi domestik, Pimpinan DPR baru-baru ini mengadakan rapat koordinasi bidang ekonomi bersama jajaran pemerintah untuk membahas penguatan fiskal dan moneter sebagai antisipasi terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik global. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan fokus pertemuan tersebut. "Rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," ujar Dasco dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).