TREN.BISNISMARKET.COM - Ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah baru-baru ini telah memicu respons kebijakan dari China. Negara Tirai Bambu tersebut mengumumkan larangan sementara terhadap ekspor gas helium, sebuah komponen vital dalam industri manufaktur chip semikonduktor.
Keputusan ini diambil pada Jumat lalu, sebagai langkah antisipasi China terhadap potensi gangguan pasokan yang dapat timbul akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut. Kekhawatiran akan terulangnya kelangkaan gas yang pernah terjadi sebelumnya menjadi pendorong utama kebijakan ini.
Awal tahun ini, ketegangan militer antara AS dan Iran sempat menyebabkan terganggunya pasokan helium secara global. Dampaknya terasa hingga ke perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia, termasuk di China, yang kini semakin bergantung pada chip domestik untuk mendukung perkembangan pesat industri kecerdasan buatan (AI).
Helium memegang peranan krusial dalam proses pembuatan chip, terutama sebagai agen pendingin yang esensial untuk menjaga suhu optimal selama produksi semikonduktor. Tanpa pasokan helium yang stabil, lini produksi chip berisiko mengalami hambatan signifikan.
"Larangan ekspor helium merupakan upaya nyata untuk melindungi pasokan domestik setelah konflik Iran kembali berkobar," ujar Cory Combs, kepala riset rantai pasokan dan mineral penting di perusahaan riset kebijakan Trivium China, dilansir Reuters, Sabtu (11/7/2026).
Pernyataan Cory Combs juga menyertakan pandangan mengenai potensi dampak larangan ini. "Kabar baiknya adalah saya tidak mengetahui negara mana pun yang sangat bergantung pada impor helium dari China. Larangan ekspor mungkin berdampak pada skala kecil, tetapi seharusnya tidak menyebabkan kekurangan atau guncangan harga yang besar," tegasnya.
Fakta menunjukkan bahwa China sendiri sangat bergantung pada pasokan helium dari luar negeri. Perkiraan dari Trivium China menyebutkan bahwa sekitar 85% kebutuhan helium negara tersebut dipenuhi melalui impor.
Salah satu pemasok utama helium bagi China adalah Qatar, yang dalam beberapa tahun terakhir menyumbang lebih dari separuh impor negara tersebut. Sebelumnya, Qatar juga sempat mengalami gangguan ekspor akibat serangan Iran, seperti yang diungkapkan oleh Combs.
Langkah China menahan ekspor helium ini merupakan pola terbaru dari upaya Beijing untuk mengamankan ketersediaan bahan-bahan krusial di dalam negeri. Kebijakan serupa sebelumnya telah diterapkan pada komoditas lain seperti bahan bakar, pupuk, dan asam sulfat.