TREN.BISNISMARKET.COM - Kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru atau 'frontier AI' kini menjadi sorotan otoritas pengawas perbankan di Eropa. Teknologi ini dikhawatirkan dapat memicu risiko siber yang sistemik terhadap stabilitas sektor keuangan.

Menanggapi potensi ancaman tersebut, sekitar 110 bank di Eropa dilaporkan hanya memiliki waktu hingga akhir Oktober 2026. Mereka dituntut untuk segera menyusun rencana aksi komprehensif dalam menghadapi risiko siber yang dipicu oleh AI.

Dikutip dari Financial Times, pengawas perbankan Eropa telah melayangkan surat imbauan kepada 110 bank pada 7 Juli 2026. Isinya meminta penyusunan strategi yang matang untuk mengantisipasi serangan siber berbasis AI.

Rencana aksi yang diminta mencakup detail pengendalian, alokasi sumber daya, pembagian peran dan tanggung jawab, serta jadwal implementasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat pertahanan siber sektor perbankan.

Langkah ini menandai pergeseran fokus regulator dari tata kelola penggunaan AI menjadi ketahanan siber. Perhatian kini lebih diarahkan pada bagaimana AI dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Peringatan ini sejalan dengan pandangan European Systemic Risk Board (ESRB). Dalam dokumen yang dirilis pada 2 Juli 2026, ESRB menyatakan bahwa 'frontier AI' telah meningkatkan risiko siber sistemik di sistem keuangan Uni Eropa secara struktural.

"Model AI canggih mampu mempercepat proses pencarian celah keamanan, menggabungkan berbagai kerentanan, hingga melakukan reverse engineering terhadap pembaruan keamanan," demikian pernyataan ESRB merujuk pada kemampuan AI yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan lebih cepat dan efektif.

Claudia Buch, anggota Dewan Pengawas European Central Bank (ECB), dalam pidatonya pada 3 Juni lalu, mengungkapkan bahwa lebih dari 85% bank besar di bawah pengawasan ECB telah mengintegrasikan AI dalam operasional mereka.

"Model AI canggih dapat memangkas biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menemukan, menggabungkan, dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak," ujar Claudia Buch, mengingatkan pentingnya kecepatan respons bank terhadap ancaman yang terus berkembang.