TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Usia sebuah ponsel pintar (HP) tidak semata-mata ditentukan oleh berapa lama perangkat tersebut telah digunakan oleh pemiliknya. Secara teknis, penentuan usia perangkat Android melibatkan dua aspek krusial, yakni tahun produksi atau perilisan awal, serta masa dukungan resmi dari pabrikan.
Mengetahui sisa umur perangkat ini menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa HP masih beroperasi secara optimal dan yang lebih utama, tetap aman untuk aktivitas digital sehari-hari. Hal ini perlu diperhatikan karena performa dan keamanan bisa menurun drastis setelah dukungan resmi berakhir.
Perangkat yang terlihat masih mulus secara fisik tidak menjamin bahwa komponen internalnya masih dalam kondisi prima atau sepenuhnya aman digunakan. Komponen di dalam HP memiliki batas usia pakai yang harus dipertimbangkan oleh pengguna.
Faktor penentu utama dalam menentukan "sisa umur" ponsel adalah seberapa lama pabrikan masih menyediakan pembaruan sistem operasi dan keamanan untuk model tersebut. Dukungan ini krusial untuk menjaga stabilitas dan proteksi perangkat.
Ketika masa dukungan resmi berakhir, perangkat tidak serta-merta langsung berhenti berfungsi. Namun, perangkat tersebut tidak akan lagi menerima perbaikan keamanan yang esensial untuk melindunginya dari ancaman siber terbaru.
Setiap produsen menerapkan kebijakan masa dukungan yang berbeda-beda antar seri produk yang mereka tawarkan di pasaran. Sebagai contoh, ponsel premium seperti Samsung Galaxy S26 atau Google Pixel terbaru seringkali mendapatkan dukungan sistem dan keamanan hingga tujuh tahun lamanya.
Sementara itu, model dari segmen menengah, seperti seri Galaxy A dari Samsung, umumnya hanya didukung selama kurang lebih empat tahun sejak tanggal perilisannya. Berbeda lagi dengan merek seperti Xiaomi dan Motorola yang biasanya memberikan dukungan resmi selama tiga tahun sejak perangkat mulai dipasarkan.
"Menggunakan perangkat yang sudah melewati masa dukungan resmi berarti celah keamanan yang ditemukan tidak akan pernah ditambal lagi," menurut analisis dari Tech Advisor. Hal ini menciptakan kerentanan signifikan bagi pengguna.
Risiko terbesar muncul ketika pengguna melakukan aktivitas sensitif seperti transaksi perbankan daring, belanja online, mengakses surel, atau menyimpan kata sandi pada perangkat yang tidak lagi menerima tambalan keamanan. Hal ini membuka peluang besar bagi potensi serangan siber.