TREN.BISNISMARKET.COM - Penguatan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia sangat bergantung pada hilirisasi nikel yang lebih mendalam. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Eksternal Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika.

Ia menekankan bahwa kesuksesan pengembangan industri ini memerlukan sinergi kuat antara sektor industri dan pemerintah. Kolaborasi ini menjadi pondasi utama untuk mewujudkan potensi nikel Indonesia.

Salah satu aspek krusial yang dibutuhkan adalah penguatan regulasi yang mendukung. Regulasi yang jelas dan kondusif akan menciptakan kepastian hukum bagi para investor dan pelaku industri.

"Pengembangan hilirisasi nikel mendukung penguatan industri baterai listrik di Indonesia disebut Direktur Eksternal Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika membutuhkan Kerjasama industri dan pemerintah termasuk dukungan penguatan regulasi," ujar Magdalena Veronika.

Pemerintah diharapkan dapat segera merealisasikan rencana pemberian insentif bagi kendaraan listrik berbasis nikel. Insentif ini dipercaya akan menjadi pendorong signifikan bagi peningkatan permintaan produk turunan nikel di pasar domestik.

"Diharapkan rencana insentif pemerintah bagi kendaraan listrik berbasis nikel dapat memberi peluang bagi peningkatan permintaan produk turunan nikel di dalam negeri," kata Magdalena Veronika.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengenai tantangan apa saja yang dihadapi oleh industri pengolahan nikel. Tantangan ini perlu diidentifikasi secara cermat untuk mencari solusi yang tepat.

Selain itu, bentuk dukungan konkret apa yang paling dibutuhkan oleh industri olahan nikel dalam mengembangkan ekosistem baterai listrik di Indonesia juga menjadi fokus utama. Dukungan ini bisa berupa kebijakan fiskal maupun non-fiskal.

Diskusi mendalam mengenai hal ini telah dilaksanakan dalam dialog bersama Shafinaz Nachiar dengan Direktur Eksternal Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika.