TREN.BISNISMARKET.COM - Berbagai inovasi fitur efisiensi bahan bakar yang disematkan pada mobil-mobil modern ternyata belum mampu memberikan dampak signifikan tanpa adanya dukungan dari gaya mengemudi yang tepat dari pengendaranya. Hal ini menjadi sorotan utama bagi para praktisi otomotif di lapangan.

Pemilik bengkel Iwan Motor yang berlokasi di Solo, Iwan, memberikan pandangannya mengenai efektivitas teknologi hemat BBM tersebut dalam keseharian. Menurutnya, teknologi tersebut sejatinya hanya berfungsi sebagai alat bantu tambahan, bukan penentu utama efisiensi bahan bakar kendaraan.

"Mode ECO pada dasarnya membantu membuat konsumsi BBM lebih irit, tapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan," ujar Iwan, pemilik bengkel Iwan Motor.

Iwan menjelaskan lebih lanjut bahwa efisiensi maksimal yang bisa ditawarkan oleh fitur penghemat bahan bakar tersebut memiliki batas tertentu. Batasan ini sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal yang dihadapi mobil selama perjalanan.

"Umumnya bisa hemat sekitar 5–15 persen tergantung cara mengemudi dan kondisi jalan," kata Iwan.

Menurut pandangan Iwan, kebiasaan berkendara sehari-hari dan perawatan komponen fisik mobil memiliki pengaruh yang jauh lebih dominan dalam menentukan seberapa irit sebuah kendaraan beroperasi. Faktor manusia dan pemeliharaan menjadi penentu utama.

"Mode ECO membantu efisiensi BBM, tapi sifatnya lebih sebagai tambahan agar karakter mobil lebih hemat. Pengaruhnya tetap kalah besar dibanding cara mengemudi, tekanan ban yang tepat, kondisi mesin yang prima dan kemacetan jalan," kata Iwan.

Selain sistem pengaturan mode berkendara, terdapat teknologi Idling Stop System (ISS) yang dirancang untuk mematikan mesin secara otomatis ketika mobil berhenti dalam kondisi lalu lintas yang padat. Teknologi ini fokus pada penghematan saat mobil diam.

"Mesin otomatis mati saat mobil berhenti seperti di lampu merah atau macet, lalu menyala lagi saat pedal dilepas. Ini cukup membantu mengurangi konsumsi BBM di dalam kota," ucap Iwan.