TREN.BISNISMARKET.COM - Seluruh bentangan Pantai Selatan Jawa diketahui berada dalam zona subduksi megathrust aktif, sebuah area krusial yang menjadi sumber potensial gempa bumi besar. Zona ini merupakan tempat bertemunya lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua, menciptakan akumulasi tegangan yang dapat bergeser secara mendadak.

Pergeseran lempeng yang tiba-tiba ini berpotensi memicu gempa bumi, di mana bagian lempeng benua di atasnya akan terdorong naik. Kondisi geologis ini menjadikan wilayah pesisir selatan Jawa sebagai area yang patut diwaspadai terkait potensi bencana alam.

Menilik kembali peristiwa kelam Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006, menjadi pengingat nyata akan ancaman gempa megathrust. Bencana tersebut dipicu oleh gempa megathrust bertipe "tsunami earthquake" yang berasal dari zona subduksi di selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Gempa yang memiliki magnitudo 7,7 ini menghasilkan gelombang tsunami yang sangat merusak, menyebabkan lebih dari 668 korban jiwa, ribuan luka-luka, serta hilangnya tempat tinggal bagi banyak warga. Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga tentang karakter ancaman gempa megathrust.

"Peristiwa Tsunami Pangandaran 2006 memberi pelajaran, bahwa tidak semua gempa megathrust menghasilkan guncangan yang sangat kuat," ujar Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).

Daryono menjelaskan lebih lanjut bahwa pada tipe "tsunami earthquake", guncangan di daratan bisa terasa relatif lemah, namun dampak tsunami yang dihasilkan justru sangat merusak. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai pelajaran dari peristiwa tersebut sangatlah penting.

"Pertama, memahami karakter ancaman, mengenali tanda-tanda tsunami, dan segera melakukan evakuasi setelah gempa meskipun dirasakan lemah di wilayah pantai merupakan kunci untuk menyelamatkan nyawa," terang Daryono.

"Kedua, satu hal penting yang harus dipahami bahwa tsunami dapat terjadi meskipun guncangan gempa sangat lemah. Gempa Pangandaran dengan magnitudo 7,7 merupakan tsunami earthquake, yaitu gempa yang menghasilkan tsunami besar tetapi guncangannya relatif lemah di daratan. Akibatnya banyak orang tetap berada di pantai karena merasa gempa yang terjadi 'tidak berbahaya'," jelas Daryono.

"Pelajaran yang dapat diambil, jangan menunggu gempa terasa kuat. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera evakuasi meninggalkan pantai," ucap Daryono.