TREN.BISNISMARKET.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini memberikan sorotan khusus terhadap modus penipuan investasi bodong yang dilakukan secara jangka panjang, yang dikenal sebagai pig butchering scam. Peringatan ini disampaikan sebagai upaya proaktif untuk melindungi masyarakat dari kerugian finansial yang besar.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen (PEPK) OJK, Dicky Kartikoyono, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat menerima tawaran investasi. Modus penipuan ini dirancang dengan strategi yang cukup unik dan manipulatif untuk menjerat calon korban.

Modus penipuan ini memiliki nama yang menggambarkan prosesnya: korban dibuat merasa nyaman dan terbuai terlebih dahulu sebelum seluruh asetnya dikuras habis. Proses ini sering kali diawali dengan membangun relasi atau kepercayaan palsu.

Dicky Kartikoyono menjelaskan karakteristik utama dari skema ini saat konferensi pers virtual pada Selasa (7/7/2026). Ia menyatakan, "Pig butchering scam, ini memang sesuai namanya ya. Kita tuh dininabokan dulu, dibikin senang dulu, diberikan banyak kemudahan, tapi sebenarnya semuanya too good to be true. Namanya butchering, akhirnya kita dikorbankan," ujarnya.

Untuk menghindari jeratan investasi palsu, Dicky menekankan pentingnya penerapan dua prinsip dasar dalam setiap kegiatan investasi yang dilakukan oleh masyarakat. Prinsip tersebut harus selalu mengacu pada aspek legalitas dan logika keuntungan yang ditawarkan.

Dalam hal legalitas, masyarakat diwajibkan untuk memastikan bahwa platform atau perusahaan yang menawarkan investasi tersebut telah terdaftar dan diawasi secara resmi oleh regulator. Dicky menambahkan, "Cari yang legal, tadi yang ilegal-ilegal kita tentunya akan hindari dan kami tentunya di OJK saat ini sedang berusaha mengembangkan sebuah aplikasi yang bisa membantu identifikasi mana yang legal, mana yang ilegal. Ini sebuah upaya yang tentunya menggunakan teknologi," jelasnya.

Selain aspek legal, masyarakat juga harus mampu mengukur potensi keuntungan investasi secara logis dan realistis sesuai kondisi pasar saat ini. Jika sebuah tawaran memberikan imbal hasil yang jauh melampaui batas wajar, maka patut dicurigai.

Dicky memberikan contoh konkret mengenai kewaspadaan terhadap imbal hasil yang tidak masuk akal, "Kalau ada sebuah layanan investasi yang menawarkan return yang tinggi, katakan too good to be true, semuanya kok kondisi suku bunga yang risk free saja sekitar 7% dia menawarkan jauh lebih tinggi, tentunya kita harus waspada," ucapnya.

Salah satu cara mendeteksi dini pig butchering scam adalah dengan menguji kemampuan penarikan dana, terutama saat keuntungan yang didapat masih dalam jumlah kecil. Hal ini penting dilakukan sebelum dana utama menumpuk besar.