TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar smartphone global menghadapi tantangan berat yang ditandai dengan penurunan signifikan dalam volume penjualan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini telah berlangsung selama sembilan minggu berturut-turut, menunjukkan adanya pelemahan permintaan yang berkelanjutan di kalangan konsumen.

Menurut data terbaru yang dihimpun oleh Counterpoint Research, pada minggu ke-20 tahun 2026 ini, pertumbuhan pasar smartphone global tercatat mengalami kontraksi sebesar 8% secara year-on-year (YoY). Situasi ini diperparah oleh isu-isu global seperti krisis rantai pasok, termasuk keterbatasan memori AI.

Kondisi pasar yang lesu ini juga menyebabkan semakin melebarnya kesenjangan kinerja antar produsen merek ponsel pintar. Perbedaan dalam stabilitas rantai pasokan serta kemampuan masing-masing perusahaan dalam menentukan harga menjadi faktor penentu utama atas performa mereka saat ini.

Di tengah tren negatif yang melanda industri ini, hanya segelintir merek yang berhasil menunjukkan tren positif yang patut dicermati. Secara spesifik, Apple dan Huawei menjadi dua nama yang mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan yang impresif.

Apple berhasil membukukan kenaikan performa sebesar 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sementara Huawei menunjukkan lonjakan performa yang sangat signifikan, yaitu melesat hingga 23% dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan adanya ketahanan pasar pada segmen tertentu.

Associate Director Counterpoint Research, Sujeong Lim, menjelaskan bahwa merek yang memiliki rantai pasokan yang kuat mampu bertahan lebih baik dalam menghadapi tekanan pasar. "Merek-merek dengan rantai pasokan yang stabil dan visibilitas tinggi pada komponen-komponen kunci seperti memori mampu mempertahankan strategi penetapan harga dan promosi lebih konsisten. Apple berada dalam posisi menguntungkan dalam hal ini," kata Sujeong Lim dikutip dari laman resmi perusahaan, Rabu (24/6/2026).

Lebih lanjut mengenai keberhasilan Huawei, Sujeong Lim menyoroti peran pasar domestik sebagai pendorong utama kinerja perusahaan tersebut. "Huawei menunjukkan kekuatan pasar China, dengan dukungan kebijakan domestik dan struktur rantai pasokan yang terlokalisasi," dia menambahkan.

Sementara itu, merek-merek besar lainnya seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo disebut lebih rentan terhadap gejolak yang terjadi. Counterpoint Research mencatat bahwa mereka sangat sensitif terhadap fluktuasi pasokan komponen dan tekanan biaya yang terus meningkat.

Akibatnya, merek-merek tersebut mengalami keterbatasan fleksibilitas dalam menentukan strategi harga dan promosi, yang pada akhirnya berdampak langsung pada penurunan volume penjualan mereka selama periode pengamatan ini.