TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan terakhir di bulan Juni 2026 dengan penurunan signifikan. Pada hari Selasa, 30 Juni 2026, IHSG tergerus 177,6 poin atau melemah sebesar 3,05%, parkir di level 5.643,19.

Sepanjang sesi perdagangan hari itu, IHSG berada dalam tekanan jual yang konsisten, membuatnya terpaku di zona merah. Pergerakan indeks terpantau dalam rentang yang relatif sempit, bergerak antara 5.638,57 hingga 5.811,67.

Sebagai perbandingan, pada penutupan hari sebelumnya, IHSG tercatat masih berada di level 5.820,79, menunjukkan adanya aksi jual yang cukup masif pada hari terakhir Juni tersebut.

Aktivitas transaksi hari itu mencatatkan nilai sebesar Rp 15,15 triliun dari total volume 19,46 miliar saham yang berpindah tangan melalui 1,59 juta kali transaksi. Nilai transaksi ini menunjukkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan rata-rata mingguan akhir Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan rata-rata harian pada pekan terakhir Mei 2026, nilai transaksi hari itu turun 87,33%, sementara volume perdagangan anjlok sebesar 59,06%. Penurunan ini mengindikasikan adanya penurunan minat dan likuiditas yang cukup dalam di pasar saham domestik.

Dilansir dari Refinitiv, koreksi yang terjadi pada IHSG hari itu melibatkan hampir seluruh sektor, di mana sektor bahan baku memimpin penurunan dengan pelemahan mencapai 4,35%. Sektor kesehatan menjadi sektor dengan pelemahan terkecil, yakni hanya minus 0,9%.

Dua saham dengan bobot terbesar tercatat menjadi beban utama pelemahan IHSG; BBCA menyumbang bobot negatif sebesar 35,12 poin dan BBRI menyumbang 17,25 poin. Saham seperti MORA, ASII, dan EMAS juga masuk dalam daftar saham yang mengalami penurunan terbesar hari itu.

Koreksi harian ini memperpanjang tren pelemahan bulanan IHSG yang terjadi sejak awal tahun, di mana IHSG selalu menutup bulan dengan catatan negatif. Secara bulanan, IHSG Juni 2026 merosot 7,9% dan secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, indeks telah tergerus 35,49%.

Analis MNC Sekuritas, Herditya, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan kondisi mata uang Rupiah yang masih cenderung lemah terhadap Dolar Amerika Serikat. Selain itu, investor juga menahan diri untuk mengambil posisi besar sambil menunggu rilis data penting.