TREN.BISNISMARKET.COM - Faktor nilai jual kembali atau resale value terbukti menjadi pertimbangan krusial bagi masyarakat Indonesia saat hendak membeli mobil baru. Karakteristik ini tampak sangat menonjol, khususnya di kalangan konsumen yang baru pertama kali memiliki kendaraan roda empat atau first car buyer.
Hal ini tercermin dari data penjualan, di mana pabrikan otomotif Daihatsu mencatatkan diri sebagai merek yang paling banyak menjual kendaraan dengan harga di bawah Rp 300 juta. Sebanyak 65 persen dari total konsumen Daihatsu merupakan kelompok yang baru pertama kali membeli mobil.
Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengungkapkan temuan ini berdasarkan survei internal yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Prioritas utama konsumen domestik dalam memilih mobil ternyata selalu mengarah pada aspek nilai jual kembalinya.
"Kalau first car buyer, kita sudah lakukan survei juga, mungkin sudah sharing beberapa kali ke teman-teman," kata Sri Agung Handayani, merujuk pada konsistensi hasil survei tersebut.
Bagi segmen pembeli mobil pemula ini, kendaraan tidak hanya dilihat sebagai barang konsumsi yang nilainya akan terdepresiasi cepat. Sebaliknya, mobil tersebut diperlakukan sebagai aset berharga yang memiliki potensi keuntungan di masa depan.
Sri Agung Handayani menyimpulkan pandangan kelompok pembeli pemula ini dengan tegas, "First car buyer itu reason-nya seperti tadi. Conclusion-nya apa? Mobil itu adalah aset," ujarnya.
Kecenderungan pasar yang unik ini memaksa produsen otomotif yang beroperasi di Indonesia untuk menyusun strategi yang lebih komprehensif. Mereka dituntut tidak hanya menyediakan produk yang efisien bahan bakar dan fungsional, tetapi juga harus menjaga kualitas mesin dan memperkuat ekosistem layanan purnajual.
Kualitas layanan purnajual dan durabilitas mesin menjadi kunci utama agar harga jual kembali mobil tersebut tetap stabil di pasar mobil bekas. Sri Agung Handayani menggambarkan fenomena ini sebagai kecenderungan konsumen yang sudah memikirkan proses penjualan bahkan sebelum pembelian dilakukan.
"Pengalaman yang dia mau dapat bukan pengalaman saat beli emas, bukan pada saat ijab kabul, tapi saat kawin. Belum beli udah mikirin jual. Jadi itu kenyataannya memang," tutur Sri Agung Handayani mengenai pola pikir konsumen Indonesia. Ia menambahkan bahwa hasil survei selama bertahun-tahun selalu menunjukkan bahwa resale value menjadi pertimbangan utama.