TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Rabu, 1 Juli 2026, nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan signifikan saat berhadapan dengan Dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tersebut ditutup melemah, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.

Menurut data yang dihimpun dari Refinitiv, Rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 0,31% untuk mengakhiri hari di posisi Rp17.930 per Dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan dirilisnya sejumlah data ekonomi domestik penting pada hari yang sama.

Sejak pembukaan sesi perdagangan, Rupiah sudah berada di bawah tekanan pasar yang kuat. Mata uang Garuda sempat dibuka melemah tajam hingga 0,42% ke level Rp17.950 per Dolar AS.

Bahkan, tekanan depresiasi semakin mendalam di sesi intraday, di mana Rupiah sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.980 per Dolar AS. Level ini mendekati ambang batas psikologis krusial Rp18.000 per Dolar AS.

Meskipun sempat tertekan dalam, pelemahan Rupiah berhasil sedikit tertahan menjelang penutupan perdagangan. Hasilnya, penutupan resmi berada di level Rp17.930 per Dolar AS yang menunjukkan adanya sedikit pemulihan dari posisi terendah harian.

Sementara itu, dari sisi global, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,16% ke level 101,351 per pukul 15.00 WIB. Penguatan Dolar AS ini menambah beban bagi mata uang Garuda.

Pelemahan Rupiah hari itu sangat erat kaitannya dengan rilis data ekonomi domestik yang menunjukkan sentimen negatif. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar.

Defisit ini terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara total nilai impor jauh melampaui, mencapai US$24,81 miliar. Catatan ini mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Neraca perdagangan Indonesia pun mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir," tegas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. Defisit ini merupakan yang pertama sejak April 2020 dan menjadi yang terdalam sejak April 2019.